Jumat, 11 Oktober 2013

PESANTREN vs SEKOLAH

PESANTREN vs SEKOLAH
“Mayoritas anak (baik lulusan SMP maupun SD) lebih menginginkan masuk ke sekolah formal baik SMP, MTs, SMA, maupun SMK. Mengapa?” B Anyak yang bilang kalau pendidikan di pesantren itu sulit, terbatas, terkekang, banyak aturannya, lebih banyak materi agamanya dan harus disiplin waktu, sedangkan di sekolah umum pendidikannya bebas, materinya lebih ringan dan tidak ada pembatasan antara siswa laki-laki dan perempuan. Inilah yang sering membuat perbedaan polapandang antara orang tua (yang menyekolahkan) dengan sang anak(yang disekolahkan). Perbedaan ini kemudian meruncing dimana antara orang tua dan anak bertolak belakang keinginan. Orang tua ingin anaknya masuk pesantren karena rasa
khawatir akan bebasnya pergaulan, merosotnya nilai moralitas dan berbagai peristiwa yang di tayangkan media tentang sepak terjang para “pelajar” dewasa ini. Mereka berharap dengan memasukkan anaknya ke pesantren dapat menjadikan sang anak memiliki bekal agama yang kuat sehingga tidak terseret arus globalisasiyang kian vulgar. Namun bagaimana dengan sang anak yang akan menjalani pendidikan selama beberapa tahun ke depan? Mayoritas anak (baik lulusan SD maupun SMP) lebih menginginkan masuk ke sekolah formal baik SMP, MTs, SMA maupun SMK. Mengapa? Tentunya segudang alasan akan meluncur dari mulut mereka sebagai argumentasi untuk meluluhkan sang orang tua. Tetapi sesungguhnya alasan mendasar yang ada di pikiran mereka hanya satu...Mereka sudah antipati dengan yang namanya “PESANTREN” yang (menurut mereka) sangat terkesan ndeso, kuno, nggak keren, menjemukan, nggak bebas, dan hanya akan menghilanhkan masa-masa indah remaja mereka. Pesanten juga terkesan menjauhkan mereka dari dunia modern, anti teknologi (karena di pondok tidak boleh membawa HP), anti dunia luar (di pondok tidakboleh semaunya keluar asrama untuk jalan-jalan nongkrong di mall, dll), anti pacaran dan masih segudang kegembiraan yang akan tercerabut jika berada di pesantren. Nah, bagaimana sebenarnya yang terjadi? Berikut ini saya mencoba memberikan gambaran perbedaan antara pendidikan umum (SD, SMP, MTs, SMA, SMK, dan MA) denganpondok pesantren “salafiyah”. SEKOLAH UMUM Kelebihan dari pendidikan formal (sekolah umum): a. Kurikulum Memiliki kurikulum tetap dan mengikuti perkembangan serta menyesuaikan dengan standar pendidikan Nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah. Memiliki buku ajar yang permanent untuk proses belajar mengajar yang efektif. Satuan Pelajaran yang sudah ditetapkan menjadi acuan dalam proses belajar mengajar. Mendapatkan pengakuan secara Nasional brupa sertifikatatau ijazah yang diterma oleh semua pihak. b. Metode Pengajaran Ada beberapa metode yang dipakai dalam pendidikan sekolah umum, diantaranya sebagai berikut: Ceramah, bermain, praktikum, tanya jawab dan lain-lain yang di sesuaikan dengan bidang studinya. Ada sebagian sekolah mengadakan kegiatan belajar mengajar tida di dalam kelas namun juga di luar ruang kelas. c. Lingkungan Belajar Proses belajar mengajar berlangsung selama 7 jam min atau max 9 jam dalam sehari. Dilakukan di dalam kelas dan di luar kelas, termasuk ruang praktikum. d. Komponen Warga Belajar Guru yang tetap. Peserta didik. Sekolah berjenjang Wali murid atau orang tua Kekurangan dari pendidikan formal (sekolah umum): a. Kurikulum Harus selalu mengikuti perkembangan yang disampaikan oleh Pemerintah. Kebanyakan tenaga pendidik merasa kewalahan terhadapperubahan kurikulum yang dilakukan Pemerintah. b. Metode Pengajaran Bangunan Sumber Daya Manusia dalam mengajar kurang maksimal Kebanyakan tenaga pendidik enggan melakukan berbagai pendekatan dalam proses belajar mengajar c. Lingkungan Belajar Membutuhkan sarana prasarana yang lengkap Membutuhkan biaya pendidikan yang mahal d. Komponen warga belajar Wali siswa kebanyakan kurang andil dalam bagian proses belajar mengajar Tenaga pendidik kurang dalam menambah pengetahuan sehingga peserta didik merasa bosan dengan apa yang disampaikan Itulah sekilas kelebihan dan kekurangan yang ada di lembaga pendidikan formal. Lalu bagaimana dengan pesantren? PESANTREN Kelebihan pesantren Adapun kelebihan dalam pendidikan di pesantren diantaranya adalah sebagai berikut: a. Kurikulum Pesantren mampu membuat dan menentukan kurikulum sendiri tanpa mengikuti standar pendidikan yang di tentukan oleh pemerintah Pesantren mampu memberikan nilai lebih dalam proses belajar mengajardengan pendekatan keilmuan yang dibutuhkan peserta didik b. Metode Pengajaran Mampu mengembangkan metode-metode baru dalam menanamkan konsep maupun mempraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari Peserta didik dapat belajar langsung dari pengalaman yang timbul sehari-hari dan menanyakan (study) kasus secara langsung dengan dewan guru (ustadz/ ustadzah) yang bersangkutan Proses belajar mengajar dilakukan 24 jam sehari semalam, sehingga kekurangan yang terjadi akan tertanggulangi secara langsung. c. Lingkungan Belajar Dukungan lingkungan terhadap proses belajar mengajar langsung diperoleh peserta didik dari pendidik Bimbingan dan asuhan pendidik langsung pada peserta didik karena dilakukan di dalam asrama d. Komponen warga belajar Kyai, asrama, tempat belajar, ruang praktikum, guru, santri, wali santri Semua komponen mampu mengaplikasikan dan menjadikan hidup adalah belajar dan ibadah Kekurangan pesantren a. Kurikulum Kurikulum selalu berubah tanpa ada pemberitahuann dan sekehendak kyai Tidak adanya standar tetap keberhasilan seorang santri dikatakan telah lulus atau tamat menempuh pendidikan b. Metode Pengajaran Aktifitas santri untukbertanya kurang Santri terlalu difokuskan pada hafalan dan konsep-konsep pada setiap mata pelajaran , sehingga sebagian santri merasa cepat bosan dengan metode tersebut c. Lingkungan belajar Kebersihan lingkungan terkadang di abaikan Kurangnya tempat untuk belajar lebih konsentrasi d. Komponen warga belajar Dikarenakan setiap santri diwajibkan belajar mandiri dapat mengakibatkan seorang santri malas, karena kurangnya bimbingan dan pengawasan dari para guru atau ustadz. Dari paparan di atas, kita bisa melihat bahwa setiap lembaga baik sekolah maupun pesantren masung-masing memiliki kelebihan namun juga memiliki kekurangan . Padahal semua orang akan mendambakan sebuah kesempurnaan (meski ini sangat sulit atau bahkan tidak mungkin), yang artinya haruslah digabungkan kelebihan sekolah dan kelebihan pesantren serta “menambal” kekurangan sekolah dan kekurangan dari pesantren itu sendiri. Kita dapat membayangkan betapa indah dan hebatnya generasi bangsa ini yang lahir dari penggabungan dua kekuatan yang luar biasa. Kekuatan intelektual sekolah dan kekuatan spiritual pesantren. Kiranya akan lahir putra-putra bangsa yang cerdas namun tetap berakhlaqul karimah sesuai kaidah-kaidah dan norma-norma islam. Pesantren (tetap) Lebih Baik dari Sekolah Umum Terlepas dari semua kekurangan dan kelebihan dari masing-masing lembaga, pesantren tetap memiliki nilai lebih. Betapa tidak, sebuah negara akan berdiri kokoh jika para pemimpin dan masyarakatnya memiliki akhlaq yang baik sehingga dalam setiap langkah dan perbuatannya akan senantiasa menepati aturan dan norma-norma yang diperbolehkan oleh Allah Swt. Dan hal itu hanya akn dapat terwujud saat para pemimpin dan masyarakat negara itu mempunyai pengetahuan dan kesadaran agama yang tinggi dimana di dalam agamalah hukum-hukumdan norma-norma Allah Swt. tersiratdan tersurat. Dan jelas pesantren mengungguli sekolah karena dalam hal ini memang pelajaran utama pesantren adalah kajian tentang hukum-hukum Allah Swt. melaluikajian kitab-kitab suci, fatwa para ulama dan lain sebagainya. Korupsi, perselingkuhan dan berbagai kejahatan yang tejadi sebagaimana kita saksikan belakangan ini adalah karena minimnya pengetahuan dan kesadaran manusia akan hukum-hukum dari Allah Swt. yangtertuang dalam agama. Sayangnya, seperti yang telah saya ungkap diawal, kini pesantren sungguh menjadi lembaga yang “sangat tidak menarik” terutama bagi generasi muda kita, tergerus oleh norma-norma ciptaan manusia yang kemudian disebut globalisasi , modernitas atau apapun namanya. Maka dibutuhkan sebuah terobosan baru untuk kembali menarik generasi muda kita masuk ke dalam lingkar kehidupan yang agamis. Inilah yang menjadi salah satu alasan Kyai “...” yang kemudian menggagas lahirnya sebuah lembaga pendidikan formal (sekolah) namun berbasis pada keilmuan agama (pesantren). Kedua Kyai Pengasuh Pesantren “...” tersebut berharap agar dapat kembali merangkul generasi-generasi muda (lulusan SD dan SMP) di lingkungan “...” khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya untuk kembali ke dunia akhlaq mulia. Untuk menjawab tantangan zaman dan mengakomodir keinginan masyarakat (orang tua siswa) yang menginginkan anaknya belajar ilmu agama sehingga dapat diharapkan menjadi waladun solikhun , namun juga tetap menarik bagi generasi muda (anak) mengingat sebuah pendidikan hanya akan berhasil jika ada ketertarikan dan kecintaan yang dididik. Maka lahirlah “...” dengan segala pelajaran dan aktifitas layaknya sekolah umum lainnya, namun berada di lingkup “...” dibawah asuhan “...” yang memberikan pendidikan keagamaan seperti pesantren salafiyah diluar jam blajat mengajar sekolah. Kini, “...” terus berbenah diri untuk meningkatkan pelayanan sehingga dapat memenuhi keinginan semua pihak.(N)