PESANTREN vs SEKOLAH
“Mayoritas anak (baik lulusan SMP maupun SD) lebih menginginkan masuk ke
sekolah formal baik SMP, MTs, SMA, maupun SMK. Mengapa?”
B
Anyak yang bilang kalau pendidikan di pesantren itu sulit, terbatas,
terkekang, banyak aturannya, lebih banyak materi agamanya dan harus
disiplin waktu, sedangkan di sekolah umum pendidikannya bebas, materinya
lebih ringan dan tidak ada pembatasan antara siswa laki-laki dan
perempuan.
Inilah yang sering membuat perbedaan polapandang antara orang tua (yang
menyekolahkan) dengan sang anak(yang disekolahkan). Perbedaan ini
kemudian meruncing dimana antara orang tua dan anak bertolak belakang
keinginan. Orang tua ingin anaknya masuk pesantren karena rasa
khawatir
akan bebasnya pergaulan, merosotnya nilai moralitas dan berbagai
peristiwa yang di tayangkan media tentang sepak terjang para “pelajar”
dewasa ini. Mereka berharap dengan memasukkan anaknya ke pesantren dapat
menjadikan sang anak memiliki bekal agama yang kuat sehingga tidak
terseret arus globalisasiyang kian vulgar.
Namun bagaimana dengan sang anak yang akan menjalani pendidikan selama
beberapa tahun ke depan?
Mayoritas anak (baik lulusan SD maupun SMP) lebih menginginkan masuk ke
sekolah formal baik SMP, MTs, SMA maupun SMK. Mengapa?
Tentunya segudang alasan akan meluncur dari mulut mereka sebagai
argumentasi untuk meluluhkan sang orang tua. Tetapi sesungguhnya alasan
mendasar yang ada di pikiran mereka hanya satu...Mereka sudah antipati
dengan yang namanya “PESANTREN” yang (menurut mereka) sangat terkesan
ndeso, kuno, nggak keren, menjemukan, nggak bebas, dan hanya akan
menghilanhkan masa-masa indah remaja mereka. Pesanten juga terkesan
menjauhkan mereka dari dunia modern, anti teknologi (karena di pondok
tidak boleh membawa HP), anti dunia luar (di pondok tidakboleh semaunya
keluar asrama untuk jalan-jalan nongkrong di mall, dll), anti pacaran
dan masih segudang kegembiraan yang akan tercerabut jika berada di
pesantren.
Nah, bagaimana sebenarnya yang terjadi?
Berikut ini saya mencoba memberikan gambaran perbedaan antara pendidikan
umum (SD, SMP, MTs, SMA, SMK, dan MA) denganpondok pesantren
“salafiyah”.
SEKOLAH UMUM
Kelebihan dari pendidikan formal (sekolah umum):
a. Kurikulum
Memiliki kurikulum tetap dan mengikuti perkembangan serta menyesuaikan
dengan standar pendidikan Nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah.
Memiliki buku ajar yang permanent untuk proses belajar mengajar yang
efektif.
Satuan Pelajaran yang sudah ditetapkan menjadi acuan dalam proses
belajar mengajar.
Mendapatkan pengakuan secara Nasional brupa sertifikatatau ijazah yang
diterma oleh semua pihak.
b. Metode Pengajaran
Ada beberapa metode yang dipakai dalam pendidikan sekolah umum,
diantaranya sebagai berikut:
Ceramah, bermain, praktikum, tanya jawab dan lain-lain yang di
sesuaikan dengan bidang studinya.
Ada sebagian sekolah mengadakan kegiatan belajar mengajar tida di
dalam kelas namun juga di luar ruang kelas.
c. Lingkungan Belajar
Proses belajar mengajar berlangsung selama 7 jam min atau max 9 jam
dalam sehari.
Dilakukan di dalam kelas dan di luar kelas, termasuk ruang praktikum.
d. Komponen Warga Belajar
Guru yang tetap.
Peserta didik.
Sekolah berjenjang
Wali murid atau orang tua
Kekurangan dari pendidikan formal (sekolah umum):
a. Kurikulum
Harus selalu mengikuti perkembangan yang disampaikan oleh Pemerintah.
Kebanyakan tenaga pendidik merasa kewalahan terhadapperubahan
kurikulum yang dilakukan Pemerintah.
b. Metode Pengajaran
Bangunan Sumber Daya Manusia dalam mengajar kurang maksimal
Kebanyakan tenaga pendidik enggan melakukan berbagai pendekatan dalam
proses belajar mengajar
c. Lingkungan Belajar
Membutuhkan sarana prasarana yang lengkap
Membutuhkan biaya pendidikan yang mahal
d. Komponen warga belajar
Wali siswa kebanyakan kurang andil dalam bagian proses belajar
mengajar
Tenaga pendidik kurang dalam menambah pengetahuan sehingga peserta
didik merasa bosan dengan apa yang disampaikan
Itulah sekilas kelebihan dan kekurangan yang ada di lembaga pendidikan
formal. Lalu bagaimana dengan pesantren?
PESANTREN
Kelebihan pesantren
Adapun kelebihan dalam pendidikan di pesantren diantaranya adalah
sebagai berikut:
a. Kurikulum
Pesantren mampu membuat dan menentukan kurikulum sendiri tanpa
mengikuti standar pendidikan yang di tentukan oleh pemerintah
Pesantren mampu memberikan nilai lebih dalam proses belajar
mengajardengan pendekatan keilmuan yang dibutuhkan peserta didik
b. Metode Pengajaran
Mampu mengembangkan metode-metode baru dalam menanamkan konsep maupun
mempraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari
Peserta didik dapat belajar langsung dari pengalaman yang timbul
sehari-hari dan menanyakan (study) kasus secara langsung dengan dewan
guru (ustadz/ ustadzah) yang bersangkutan
Proses belajar mengajar dilakukan 24 jam sehari semalam, sehingga
kekurangan yang terjadi akan tertanggulangi secara langsung.
c. Lingkungan Belajar
Dukungan lingkungan terhadap proses belajar mengajar langsung
diperoleh peserta didik dari pendidik
Bimbingan dan asuhan pendidik langsung pada peserta didik karena
dilakukan di dalam asrama
d. Komponen warga belajar
Kyai, asrama, tempat belajar, ruang praktikum, guru, santri, wali
santri
Semua komponen mampu mengaplikasikan dan menjadikan hidup adalah
belajar dan ibadah
Kekurangan pesantren
a. Kurikulum
Kurikulum selalu berubah tanpa ada pemberitahuann dan sekehendak kyai
Tidak adanya standar tetap keberhasilan seorang santri dikatakan telah
lulus atau tamat menempuh pendidikan
b. Metode Pengajaran
Aktifitas santri untukbertanya kurang
Santri terlalu difokuskan pada hafalan dan konsep-konsep pada setiap
mata pelajaran , sehingga sebagian santri merasa cepat bosan dengan
metode tersebut
c. Lingkungan belajar
Kebersihan lingkungan terkadang di abaikan
Kurangnya tempat untuk belajar lebih konsentrasi
d. Komponen warga belajar
Dikarenakan setiap santri diwajibkan belajar mandiri dapat
mengakibatkan seorang santri malas, karena kurangnya bimbingan dan
pengawasan dari para guru atau ustadz.
Dari paparan di atas, kita bisa melihat bahwa setiap lembaga baik
sekolah maupun pesantren masung-masing memiliki kelebihan namun juga
memiliki kekurangan . Padahal semua orang akan mendambakan sebuah
kesempurnaan (meski ini sangat sulit atau bahkan tidak mungkin), yang
artinya haruslah digabungkan kelebihan sekolah dan kelebihan pesantren
serta “menambal” kekurangan sekolah dan kekurangan dari pesantren itu
sendiri. Kita dapat membayangkan betapa indah dan hebatnya generasi
bangsa ini yang lahir dari penggabungan dua kekuatan yang luar biasa.
Kekuatan intelektual sekolah dan kekuatan spiritual pesantren. Kiranya
akan lahir putra-putra bangsa yang cerdas namun tetap berakhlaqul
karimah sesuai kaidah-kaidah dan norma-norma islam.
Pesantren (tetap) Lebih Baik dari Sekolah Umum
Terlepas dari semua kekurangan dan kelebihan dari masing-masing lembaga,
pesantren tetap memiliki nilai lebih. Betapa tidak, sebuah negara akan
berdiri kokoh jika para pemimpin dan masyarakatnya memiliki akhlaq yang
baik sehingga dalam setiap langkah dan perbuatannya akan senantiasa
menepati aturan dan norma-norma yang diperbolehkan oleh Allah Swt.
Dan hal itu hanya akn dapat terwujud saat para pemimpin dan masyarakat
negara itu mempunyai pengetahuan dan kesadaran agama yang tinggi dimana
di dalam agamalah hukum-hukumdan norma-norma Allah Swt. tersiratdan
tersurat. Dan jelas pesantren mengungguli sekolah karena dalam hal ini
memang pelajaran utama pesantren adalah kajian tentang hukum-hukum Allah
Swt. melaluikajian kitab-kitab suci, fatwa para ulama dan lain
sebagainya.
Korupsi, perselingkuhan dan berbagai kejahatan yang tejadi sebagaimana
kita saksikan belakangan ini adalah karena minimnya pengetahuan dan
kesadaran manusia akan hukum-hukum dari Allah Swt. yangtertuang dalam
agama.
Sayangnya, seperti yang telah saya ungkap diawal, kini pesantren sungguh
menjadi lembaga yang “sangat tidak menarik” terutama bagi generasi muda
kita, tergerus oleh norma-norma ciptaan manusia yang kemudian disebut
globalisasi , modernitas atau apapun namanya.
Maka dibutuhkan sebuah terobosan baru untuk kembali menarik generasi
muda kita masuk ke dalam lingkar kehidupan yang agamis.
Inilah yang menjadi salah satu alasan Kyai “...” yang kemudian
menggagas lahirnya sebuah lembaga pendidikan formal (sekolah) namun
berbasis pada keilmuan agama (pesantren).
Kedua Kyai Pengasuh Pesantren “...” tersebut berharap agar dapat kembali
merangkul generasi-generasi muda (lulusan SD dan SMP) di lingkungan
“...” khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya untuk kembali ke dunia
akhlaq mulia.
Untuk menjawab tantangan zaman dan mengakomodir keinginan masyarakat
(orang tua siswa) yang menginginkan anaknya belajar ilmu agama sehingga
dapat diharapkan menjadi waladun solikhun , namun juga tetap menarik
bagi generasi muda (anak) mengingat sebuah pendidikan hanya akan
berhasil jika ada ketertarikan dan kecintaan yang dididik. Maka lahirlah
“...” dengan segala pelajaran dan aktifitas layaknya sekolah umum
lainnya, namun berada di lingkup “...” dibawah asuhan “...” yang
memberikan pendidikan keagamaan seperti pesantren salafiyah diluar jam
blajat mengajar sekolah. Kini, “...” terus berbenah diri untuk
meningkatkan pelayanan sehingga dapat memenuhi keinginan semua pihak.(N)