Menjelang hari raya, sudah banyak orang mengirim SMS lebaran, padahal
lebaran masih beberapa hari lagi. Saya juga sudah menerima SMS.
Diperkirakan besok SMS lebaran yang masuk ke ponsel setiap orang akan
lebih banyak lagi. Itu belum termasuk ucapan melalui jejaring sosial,
email, dan blog.
Kalimat apa yang banyak diucapkan orang untuk memberi ucapan selamat
Hari Raya Idul Fitri? Kalau bukan “minal ‘aidin wal faizin”, ya “mohon
maaf lahir dan batin”. Seringkali penulisan kedua kalimat itu disatukan
menjadi “minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin”. Bagi
orang yang tidak mengerti Bahasa Arab mungkin beranggapan bahwa “minal
‘aidin wal faizin” itu artinya “maaf lahir dan batin”. Benar bukan?
Pertanyaannya, benarkah arti “minal ‘aidin wal faizin” adalah “mohon maaf lahir dan batin”?
Berdasarkan beberapa sumber di jagat maya seperti Wikipedia,
mengucapkan kata “Minal ‘Aidin wal Faizin” di saat hari Idul Fitri
maupun Idul Adha merupakan budaya umat Islam di Indonesia.
Biarpun berbahasa Arab, ucapan ini tidak akan dimengerti maknanya oleh
orang Arab, kalimat ini pun tidak ada dalam kosa kata kamus bahasa Arab,
dan hanya dapat dijumpai makna kata per katanya saja. Tidak ada
dasar-dasar yang jelas tentang ucapan ini, baik berupa hadits atau
lainnya.
Jika bukan “mohon maaf lahir dan batin”, lalu apa arti ucapan “minal ‘aidin wal faizin”?
Seperti yang telah diterangkan di atas, menurut bahasa Arab ucapan
ini hanya memiliki arti per kata, bukan per kalimat. Secara per huruf
ucapan ini diterjemahkan menjadi “dari (yang) kembali dan berhasil”.
Adapun di Indonesia, ucapan ini kemudian ditejemahkan menjadi “Semoga
kita semua tergolong mereka yang kembali (ke fitrah) dan berhasil (dalam
latihan menahan diri)”. Khusus untuk kalimat “kembali (ke fitrah)”
perlu dicaritahu asal-muasalnya, mengingat arti kata “Fitr” pada kata
‘Id Al Fitr (yang kita baca “Idul Fitri”) bermakna “berbuka” bukan
“kesucian”, karena arti kata ‘Id Al Fitr atau Idul Fitri adalah “Hari
Raya Berbuka (dari puasa)”.
Hmm, lalu jika bukan “minal ‘aidin wal faizin”, apakah yang diucapkan
oleh Rasulullah SAW dan para sahabat di Hari Raya? Mari kita simak
hadits berikut ini.
Dari Khalid bin Ma’dan, dia berkata: “Aku bertemu dengan Watsilah bin
Al Asyqa’ di Hari Raya, maka aku berkata: Taqobballallohu minna wa
minka”
Watsilah berkata: “Aku bertemu dengan Rasulallah SAW di Hari Raya, maka
aku berkata: Taqobballallohu minna wa minka, maka Rasulallah berkata:
Na’am (iya), taqobballallohu minna wa minka”
-HR Baihaqi-
Adapun arti dari “Taqobballallohu minna wa minka” adalah “semoga
Allah menerima (amal)ku dan (amal)mu”. Lafal “ka” yang berarti “kamu” di
akhir kalimat bisa diganti sesuai dengan orang yang dido’akan: “ka”
jika lawan bicara yang dido’akan dengan ucapan ini adalah seorang
laki-laki, “ki” jika lawan bicaranya seorang wanita, dan “kum” jika
lawan bicara adalah orang banyak.
Berarti berdasarkan hadits Rasulullah SAW ucapan Hari Raya adalah “Taqobballallohu minna wa minkum”.
Hal ini penting untuk kita ketahui, karena Allah berfirman dalam surah Al Isra ayat 36:
“Jangan engkau amalkan sesuatu (amalan) yang tidak engkau ketahui ilmunya”
Sedangkan Rasulullah SAW bersabda di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori
“Barang siapa yang beramal dengan amalan yang tidak ada perkaraku
atasnya (tidak pernah aku contohkan) maka (dia atau amalannya) ditolak”.
Karena ternyata masih banyak diantara kita yang belum mengetahui hal
ini. Seperti yang pernah saya alami ketika mendapat amal sholih mengisi
materi pengajian setelah Hari Raya beberapa tahun lalu. Saat itu saya
sempat bertanya pada peserta pengajian “Apa arti ucapan minal ‘aidin wal
faizin?”. Semua orang yang saya tunjuk untuk menjawab pertanyaan itu
sepakat bahwa -menurut mereka- arti ucapan tersebut adalah “Mohon maaf
lahir dan batin”. Yang lebih menggelitik lagi adalah ketika saya
bertanya tentang arti ucapan “Taqobballallohu minna wa minka”, ternyata
para peserta pengajian mengira ucapan tersebut juga berarti “Mohon maaf
lahir dan batin”.
Alhamdulillah, kini kita sudah tahu bagaimana contoh Rasulullah SAW
dalam hal ucapan Hari Raya. Sebagai ummat yang mengakui Rasulullah SAW
sebagai panutannya, bukankah sudah seharusnya kita beramal sebagaimana
contoh Rasulullah? ^^
Semoga Allah memberi izin kepada kita kesuksesan dalam beribadah di
sisa bulan Ramadhan tahun ini sehingga bisa benar-benar berbahagia di
Hari Raya, serta semoga kita bisa bertemu dengan bulan Ramadhan di tahun
depan.
Alhamdulillah jaza kumullahu khoiro. Selamat Idul Adha 1434 H. Taqobballallohu minna wa minkum.
