Selasa, 15 Oktober 2013

Apa Sih Arti “Minal Aidin Wal Faizin” Itu?

Menjelang hari raya, sudah banyak orang mengirim SMS lebaran, padahal lebaran masih beberapa hari lagi. Saya juga sudah menerima SMS. Diperkirakan besok SMS lebaran yang masuk ke ponsel setiap orang akan lebih banyak lagi. Itu belum termasuk ucapan melalui jejaring sosial, email, dan blog.
Kalimat apa yang banyak diucapkan orang untuk memberi ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri? Kalau bukan “minal ‘aidin wal faizin”, ya “mohon maaf lahir dan batin”. Seringkali penulisan kedua kalimat itu disatukan menjadi “minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin”. Bagi orang yang tidak mengerti Bahasa Arab mungkin beranggapan bahwa “minal ‘aidin wal faizin” itu artinya “maaf lahir dan batin”. Benar bukan?
Pertanyaannya, benarkah arti “minal ‘aidin wal faizin” adalah “mohon maaf lahir dan batin”?
Berdasarkan beberapa sumber di jagat maya seperti Wikipedia, mengucapkan kata “Minal ‘Aidin wal Faizin” di saat hari Idul Fitri maupun Idul Adha merupakan budaya umat Islam di Indonesia. Biarpun berbahasa Arab, ucapan ini tidak akan dimengerti maknanya oleh orang Arab, kalimat ini pun tidak ada dalam kosa kata kamus bahasa Arab, dan hanya dapat dijumpai makna kata per katanya saja. Tidak ada dasar-dasar yang jelas tentang ucapan ini, baik berupa hadits atau lainnya.
Jika bukan “mohon maaf lahir dan batin”, lalu apa arti ucapan “minal ‘aidin wal faizin”?
Seperti yang telah diterangkan di atas, menurut bahasa Arab ucapan ini hanya memiliki arti per kata, bukan per kalimat. Secara per huruf ucapan ini diterjemahkan menjadi “dari (yang) kembali dan berhasil”. Adapun di Indonesia, ucapan ini kemudian ditejemahkan menjadi “Semoga kita semua tergolong mereka yang kembali (ke fitrah) dan berhasil (dalam latihan menahan diri)”. Khusus untuk kalimat “kembali (ke fitrah)” perlu dicaritahu asal-muasalnya, mengingat arti kata “Fitr” pada kata ‘Id Al Fitr (yang kita baca “Idul Fitri”) bermakna “berbuka” bukan “kesucian”, karena arti kata ‘Id Al Fitr atau Idul Fitri adalah “Hari Raya Berbuka (dari puasa)”.
Hmm, lalu jika bukan “minal ‘aidin wal faizin”, apakah yang diucapkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat di Hari Raya? Mari kita simak hadits berikut ini.
Dari Khalid bin Ma’dan, dia berkata: “Aku bertemu dengan Watsilah bin Al Asyqa’ di Hari Raya, maka aku berkata: Taqobballallohu minna wa minka”
Watsilah berkata: “Aku bertemu dengan Rasulallah SAW di Hari Raya, maka aku berkata: Taqobballallohu minna wa minka, maka Rasulallah berkata: Na’am (iya), taqobballallohu minna wa minka”
-HR Baihaqi-
Adapun arti dari “Taqobballallohu minna wa minka” adalah “semoga Allah menerima (amal)ku dan (amal)mu”. Lafal “ka” yang berarti “kamu” di akhir kalimat bisa diganti sesuai dengan orang yang dido’akan: “ka” jika lawan bicara yang dido’akan dengan ucapan ini adalah seorang laki-laki, “ki” jika lawan bicaranya seorang wanita, dan “kum” jika lawan bicara adalah orang banyak.
Berarti berdasarkan hadits Rasulullah SAW ucapan Hari Raya adalah “Taqobballallohu minna wa minkum”.
Hal ini penting untuk kita ketahui, karena Allah berfirman dalam surah Al Isra ayat 36:
“Jangan engkau amalkan sesuatu (amalan) yang tidak engkau ketahui ilmunya”
Sedangkan Rasulullah SAW bersabda di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori
“Barang siapa yang beramal dengan amalan yang tidak ada perkaraku atasnya (tidak pernah aku contohkan) maka (dia atau amalannya) ditolak”.
Karena ternyata masih banyak diantara kita yang belum mengetahui hal ini. Seperti yang pernah saya alami ketika mendapat amal sholih mengisi materi pengajian setelah Hari Raya beberapa tahun lalu. Saat itu saya sempat bertanya pada peserta pengajian “Apa arti ucapan minal ‘aidin wal faizin?”. Semua orang yang saya tunjuk untuk menjawab pertanyaan itu sepakat bahwa -menurut mereka- arti ucapan tersebut adalah “Mohon maaf lahir dan batin”. Yang lebih menggelitik lagi adalah ketika saya bertanya tentang arti ucapan “Taqobballallohu minna wa minka”, ternyata para peserta pengajian mengira ucapan tersebut juga berarti “Mohon maaf lahir dan batin”.
Alhamdulillah, kini kita sudah tahu bagaimana contoh Rasulullah SAW dalam hal ucapan Hari Raya. Sebagai ummat yang mengakui Rasulullah SAW sebagai panutannya, bukankah sudah seharusnya kita beramal sebagaimana contoh Rasulullah? ^^
Semoga Allah memberi izin kepada kita kesuksesan dalam beribadah di sisa bulan Ramadhan tahun ini sehingga bisa benar-benar berbahagia di Hari Raya, serta semoga kita bisa bertemu dengan bulan Ramadhan di tahun depan.
Alhamdulillah jaza kumullahu khoiro. Selamat  Idul Adha 1434 H. Taqobballallohu minna wa minkum.