PUSAT PENDIDIKAN BERBASIS KOMPETENSI, INOVATIF, DAN BERAKHLAKUL KARIMAH DALAM MENEPIS BUDAYA AMORAL DARI PENGARUH GLOBAL
Sabtu, 24 Agustus 2013
Minggu, 11 Agustus 2013
SEJARAH DAN MAKNA LAMBANG KABUPATEN SOPPENG
A. SEJARAH
KABUPATEN SOPPENG
I.
PENDAHULUAN
Pengungkapan
hari jadi Soppeng sangat besar arti dan maknanya, baik bagi generasi saat ini
maupun generasi mendatang, sehingga mereka dapat memahami dan mengetahui
kejayaan masyarakat Soppeng pada masa lalu, sebagai acuan dalam membangun masa
depan yang lebih baik.
II.
ASAL MULA NAMA SOPPENG
Asal
mula nama Soppeng para pakar dan budayawan belum ada kesepakatan bahwa dalam
sastra bugis tertua I LAGALIGO telah tertulis nama kerajaan Soppeng yang
berbunyi :
“
IYYANAE SURE PUADA ADAENGNGI TANAE RI SOPPENG, NAWALAINNA SEWO-GATTARRENG, NONI
MABBANUA
TAUWE RI SOPPENG, NAIYYA TAU SEWOE IYANARO RI YASENG TAU SOPPENG RIAJA, IYYA TAU GATTARENGNGE IYANARO
RIASENG TAU SOPPENG RILAU.
TAUWE RI SOPPENG, NAIYYA TAU SEWOE IYANARO RI YASENG TAU SOPPENG RIAJA, IYYA TAU GATTARENGNGE IYANARO
RIASENG TAU SOPPENG RILAU.
Berdasarkan
naskah lontara tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa penduduk tanah
Soppeng mulanya datang dari dua tempat yaitu sewo dan Gattareng.
III. PENGANGKATAN DATU PERTAMA KERAJAAN SOPPENG
Didalam
lontara tertulis bahwa jauh sebelum terbentuknya Kerajaan Soppeng telah ada
kekuasaan yang mengatur jalannya Pemerintahan yang berdasarkan kesepakatan 60 Pemuka
Masyarakat, hal ini dilihat dari jumlah Arung, Sullewatang, Paddanreng, dan
Pabbicara yang mempunyai daerah kekuasaan sendiri yang dikoordini olih
LILI-LILI. Namun suatu waktu terjadi suatu musim kemarau disana sini timbul
huru-hara, kekacauan sehingga kemiskinan dan kemelaratan terjadi dimana-mana
olehnya itu 60 Pemuka Masyarakat bersepakat untuk mengangkat seorang junjungan
yang dapat mengatasi semua masalah tersebut. Tampil Arung Bila mengambil
inisiatif mengadakan musyawarah besar yang dihadiri 30 orang matoa dari Soppeng
Riaja dan 30 orang Matoa dari Soppeng Rilau, sementara musyawarah berlangsung,
seekor burung kakak tua terbang mengganggu diantara para hadirin dan Arung Bila
memerintahkan untuk menghalau burung tersebut dan mengikuti kemana mereka
terbang. Burung Kakak Tua tersebut akhirnya sampai di Sekkanyili dan ditempat
inilah ditemukan seorang berpakaian indah sementara duduk diatas batu, yang
bergelar Manurungnge Ri Sekkanyili atau LATEMMAMALA sebagai pemimpin yang
diikuti dengan IKRAR, ikrar tersebut terjadi antara LATEMMAMALA dengan rakyat
Soppeng.
Demikianlah
komitmen yang lahir antara Latemmamala dengan rakyat Soppeng, dan saat itulah
Latemmamala menerima pengangkatan dengan Gelar DATU SOPPENG, sekaligus sebagai
awal terbentuknya Kerajaan Soppeng, dengan mengangkat Sumpah di atas Batu yang
di beri nama “ LAMUNG PATUE” sambil memegang segenggam padi dengan mengucapkan
kalimat yang artinya “isi padi tak akan masuk melalui kerongkongan saya bila
berlaku curang dalam
melakukan Pemerintahan selaku Datu Soppeng ”.
melakukan Pemerintahan selaku Datu Soppeng ”.
IV.
PERUMUSAN HARI JADI SOPPENG
Soppeng
yang memiliki sejarah cemerlang dimasa lalu, dengan memperhatikan berbagai
masukan agar penempatan Hari Jadi Soppeng, diadakan seminar karena kurang tepat bila dihitung
dari saat dimulainya Pelaksanaan Undang-undang Darurat Nomor 04 Tahun 1957, sebab jauh sebelumnya didalam
lontara, Soppeng telah mengenal sistem Pemerintahan yang Demokrasi dibawah
kepemimpinan Raja dan Datu. Maka dilaksanakanlah Seminar Sehari pada Tanggal 11
Maret 2000, yang dihadiri oleh para pakar, Budayawan, Seniman, Ahli
Sejarah, Tokoh Masyarakat, AlimUlama, Generasi Muda dan LSM, dimana disepakati bahwa hari Jadi Soppeng dimulai sejak
Pemerintahan TO MANURUNGNGE RI SEKKANYILI atau LATEMMAMALA tahun 1261, berdasarkan perhitungan dengan menggunakan
BACKWARD CONTING, dan mengusulkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten Soppeng untuk dibahas dalam Rapat Paripurna dan mengesahkan untuk
dijadikan salam suatu Peraturab Daerah tentang Hari Jadi Soppeng.
V.
PENETAPAN HARI JADI SOPPENG
Dari
hasil rapat Paripurna Dewan perwakilan Rakyat Daerah kabupaten Soppeng, Tanggal
12 Maret 2001 telah menetapkan dan mengesahkan suatu Peraturan Daerah Kabupaten
Soppeng, Nomor 09 Tahun 2001, Tanggal 12 Maret 2001, bahwa Hari Jadi Soppeng
Jatuh pada Tanggal 23 Maret 1261. Ringkasan arti dari pemakaian Hari jadi
Soppeng yakni angka 2 dan angka 3, karena angka tersebut mempunyai makna
sejarah dan filosofi sebagai berikut :
1.
Angka 2 menunjukkan :
a. Dua ke Datuan yakni Soppeng Rilau dan Soppeng Riaja
b. Dua Tomanurung yaitu : TOMANURUNG RI SEKKANYILI DAN TO MANURUNG RI GORIE.
c. Dua Cakkelle/Burung Kakaktua yang memperebutkan setangkai padi, yang merupakan petunjuk para matoa yangbermusyawarah mengatasi krisi kelaparan, akhirnya menemukan Tomanurungnge RI SEKKANYILI
d. Dua Pegangan hidup yaitu kejujuran dan keadilan.
e. Dua hal yang tidak bisa dihindari yaitu nasib dan takdir.
f. Dua tanranna namaraja tanaE
- Seorang pemimpin harus jujur dan pintar
- Masyarakat hidup aman, tentram dan damai.
a. Dua ke Datuan yakni Soppeng Rilau dan Soppeng Riaja
b. Dua Tomanurung yaitu : TOMANURUNG RI SEKKANYILI DAN TO MANURUNG RI GORIE.
c. Dua Cakkelle/Burung Kakaktua yang memperebutkan setangkai padi, yang merupakan petunjuk para matoa yangbermusyawarah mengatasi krisi kelaparan, akhirnya menemukan Tomanurungnge RI SEKKANYILI
d. Dua Pegangan hidup yaitu kejujuran dan keadilan.
e. Dua hal yang tidak bisa dihindari yaitu nasib dan takdir.
f. Dua tanranna namaraja tanaE
- Seorang pemimpin harus jujur dan pintar
- Masyarakat hidup aman, tentram dan damai.
2.
Angka 3 menunjukkan :
a. adanya perjanjian 3 kerajaan yaitu : Bone, Soppeng dan Wajo yang dikenal dengan Tellu PoccoE.
b. Taring Tellu Menunjukkan tempat bertumpu yang sangat kuat dan stabil.
c. TELLU RIALA SAPPO, yaitu TAUE RIDEWATAE, TAUE RI WATAKKALE, TAUE RI PADATTA RUPA TAU.
d. TELLU EWANGENNA LEMPUE, yaitu kejujuran, kebenaran dan keteguhan.
a. adanya perjanjian 3 kerajaan yaitu : Bone, Soppeng dan Wajo yang dikenal dengan Tellu PoccoE.
b. Taring Tellu Menunjukkan tempat bertumpu yang sangat kuat dan stabil.
c. TELLU RIALA SAPPO, yaitu TAUE RIDEWATAE, TAUE RI WATAKKALE, TAUE RI PADATTA RUPA TAU.
d. TELLU EWANGENNA LEMPUE, yaitu kejujuran, kebenaran dan keteguhan.
3.
Angka Dua Tellu bermakna :
a. Dua Tellu bermakna antara lain murah reski.
b. – Dua temmasarang, artinya Allah dan hambanya tidak pernah berpisah.
- Tellu temmalaiseng, artinya Allah Malaikat dan hamba selalu bersama-sama.
c. Tellu Dua Macciranreng, Tellu- Tellu Tea Pettu bermakna berpintal dua sangat rapu, berpintal tiga tidak akan putus.
d. – Mattulu Parajo Dua Siranreng teppettu sirangreng.
- Marutte Parajo, Mattulu Tellu Tempettu Silariang, bermakna tidak saling membohongi, nanti akan putus jika putus bersama.
a. Dua Tellu bermakna antara lain murah reski.
b. – Dua temmasarang, artinya Allah dan hambanya tidak pernah berpisah.
- Tellu temmalaiseng, artinya Allah Malaikat dan hamba selalu bersama-sama.
c. Tellu Dua Macciranreng, Tellu- Tellu Tea Pettu bermakna berpintal dua sangat rapu, berpintal tiga tidak akan putus.
d. – Mattulu Parajo Dua Siranreng teppettu sirangreng.
- Marutte Parajo, Mattulu Tellu Tempettu Silariang, bermakna tidak saling membohongi, nanti akan putus jika putus bersama.
4.
dipilihnya bulan tiga atau maret Karena :
a. Bulan Terbentuknya Kabupaten Soppeng
b. Bulan Pelaksanaan Seminar hari Jadi Soppeng.
a. Bulan Terbentuknya Kabupaten Soppeng
b. Bulan Pelaksanaan Seminar hari Jadi Soppeng.
5.
selain itu angka dua atau tiga juga bermakna :
- jika angka 2 + 3 = 5 yang berarti :
a. makna kata dalam huruf karawi lambing Daerah yaitu ADE, RAPANG, WARI, BICARA, SARA ’
b. Rukun Islam
c. Pancasila
- jika angka 2 X 3 = 6 yang bermakna : Rukun Islam
- jika angka 2 + 3 = 5 yang berarti :
a. makna kata dalam huruf karawi lambing Daerah yaitu ADE, RAPANG, WARI, BICARA, SARA ’
b. Rukun Islam
c. Pancasila
- jika angka 2 X 3 = 6 yang bermakna : Rukun Islam
6.
dipilihnya tahun 1261 adalah menggunakan BACKWARD COUNTING, yaitu pemerintahan
Datu Soppeng pertama TAU MANURUNGNGE RI SEKKANYILI atau LATEMMAMALA pada tahun 1261.
sehingga dengan demikian hari jadi Soppeng
ditetapkan pada tanggal 23 Maret 1261.
ditetapkan pada tanggal 23 Maret 1261.
IV.
PENUTUP
Demikianlah
sekaligus sejarah singkat Hari jadi soppeng, untuk diperingati setiap Tahun
oleh Pemerintah Kabupaten Soppeng bersama seluruh masyarakat untuk bersama-sama
dalam melaksanakan kegiatan dan mengisi Pembangunan, sekaligus kita bangga
sebagai warga Masyarakat Soppeng dalam suatu wadah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
B. ARTI
DAN MAKNA LAMBANG KABUPATEN SOPPENG
1. Dalam mytologie pembentukan pemerintahan
teratur, pertama burung kakatua digambarkan sebagai duta pembawa berita
sehingga diketemukan Raja pertama dari Soppeng yang membawa daerah ini kepada
keamanan, keadilan dan kemakmuran.
2. Kabupaten Soppeng dari dahulu adalah daerah
agraris menyebabkan rakyatnya makmur dan dapat mengekspor bahan pangan seperti
beras, jagung, kedele, kacang tanah, wijen. Begitupun tanaman-tanaman tahunan seperti
tembakau, bawang dan lain-lain.
3. a. "Karawi " adalah hiasan kanak-kanak yang digantung
didadanya, biasanya diberikan ukiran-ukiran merupakan azimat.
b. Lukisan tengah dari karawi
ini, merupakan gambar bunga yang bertajuk lima,
melambangkan azimat Kabupaten Soppeng.
c. Lukisan pinggir karawi
merupakan kata bahasa daerah yang diambil dari kalimat berbunyi : "
Eppamua Parajai Tanah, Iyami Naripagenne Lima Rirapimami AsellengengE
Naritambaina Koritu Sara, Iyanaritu : Pammulanna Ade Maduanna Rapang,
Matellunna Bicara, Maeppana Wari, Malimanna Sara.
d. Makna kata-kata adat itu adalah :
Ade, maknanya keselarasan guna kebaikan umum
Rapang, maknanya hukum/pedoman
bicara, maknanya mufakat kepada yang bernilai tinggi atau peradilan
wari, maknanya pembidangan dan pembatasan untuk ketegasan batas-batas dan kedudukan tiap sesuatu
sara, maknanya hukum agama
Rapang, maknanya hukum/pedoman
bicara, maknanya mufakat kepada yang bernilai tinggi atau peradilan
wari, maknanya pembidangan dan pembatasan untuk ketegasan batas-batas dan kedudukan tiap sesuatu
sara, maknanya hukum agama
Sesungguhnya
kelima azas ini menjadi petunjuk dalam setiap bidang kehidupan.
4. a. Semboyan ini berasal dari
kalimat amanat masyarakat kepada pucuk pimpinan pemerintahan dikala
pelantikannya. Dahulu diucapkan oleh Matoa Bila atas nama rakyat kepada Datu
yang menerima pemerintahan kekayaan Soppeng antara lain berbunyi : "
Dongirikeng temmatipa, salipurikkeng temmadinging, wessekkeng temmakapa".
b. Arti semboyan ini :
Dongiri
Temmatipa, yaitu membimbing dan mara
pejabat pemerintah setiap waktu memberikan perhatian kepada karya rakyat dan
dimana perlu memberi bimbingan kepada kesempurnaannya supaya kerja itu membawa
hasil yang menguntungkan.
Salipuri
Temmadinging, yaitu memelihara kesehatan badaniah dan
bathiniah. Dimaksud agar pejabat pemerintah mengusahakan pengadaan sandang,
perumahan dan pendidikan, supaya rakyat dengan segala kegiatannya dapat
dilaksanakan dengan baik. Hendaknya dipergunakan semboyan " Beribadatlah
agar dalam tubuh yang sehat bersemayam jiwa yang sehat".
Wesse Temmakapa, yaitu mengusahakan kerukunan dan kedamaian antara semua golongan dan anggota-anggota masyarakat supaya masyarakat itu merupakan kesatuan tenaga yang besar guna menghadapi setiap kerja pembangunan.
Wesse Temmakapa, yaitu mengusahakan kerukunan dan kedamaian antara semua golongan dan anggota-anggota masyarakat supaya masyarakat itu merupakan kesatuan tenaga yang besar guna menghadapi setiap kerja pembangunan.
Hubungan
semboyan dongiri temmatipa dan wessetemmakapa mengisyaratkan bahwa pengadaan
bahan pangan rakyat mendapat perhatian sepenuhnya guna kemajuaannya dimana
daerah ini terkenal dengan julukan lumbung padi.
5. Warna Lambang :
Latar
belakang warna biru muda
Bulu
kakatua warna putih, paru dan kaki warna abu-abu
Padi warna kuning emas
Buah Kapas : a. Bijinya warna putih. b. Kelopaknya warna kuning muda.
Karawi warna kuning emas dan huruf bugisnya warna hitam
Pita dibawah lambang warna merah dan huruf bugisnya warna putih.
Padi warna kuning emas
Buah Kapas : a. Bijinya warna putih. b. Kelopaknya warna kuning muda.
Karawi warna kuning emas dan huruf bugisnya warna hitam
Pita dibawah lambang warna merah dan huruf bugisnya warna putih.
Sabtu, 10 Agustus 2013
RAJA BONE PERTAMA
Manurung-E ri Matajang, Mata SilompoE (1326–1358)
::Konflik Antar Kalula::
Selama tujuh pariama (diperkirakan kurang-lebih 70 tahun) yang disebut sebagai Bone pada awalnya hanya meliputi tujuh unit anang (kampung) yakni; Ujung, Ponceng, Ta’, Tibojong, Tanete Riattang, Tanete Riawang dan Macege, tenggelam dalam situasi konflik yang berkepanjangan. Kondisi ini dalam bahasa Bugis dikenal dengan istilah sianre bale,
dimana yang kuat memangsa yang lemah. Luas Bone pada masa itu terbilang
lebih kecil dari Ibukota Kabupaten Bone, Watampone sekarang.
Masing-masing anang dipimpin oleh seorang Kalula,
gelar pemimpin kelompok. Situasi politik ini merupakan akibat langsung
dari kondisi tidak adanya (lagi) tokoh yang mereka anggap sebagai
pemimpin besar yang dapat mempersatujuan visi dan misi ke tujuh anang tersebut. Menurut lontara’, hal ini secara implisit dijelaskan dalam Sure’ La Galigo, lebih disebabkan oleh punahnya (sudah tidak terdeteksinya) keturunan-keturunan La Galigo di Bone. Ketujuh pemimpin (kalula) kelompok masyarakat (anang) saling mengklaim “hak” atas kepemimpinan wilayah Bone tersebut. Ada juga budayawan yang menyebut Kalalu Anang Cina,
Barebbo, Awampone dan Palakka sudah turut dalam perjanjian ManurungE
dengan orang Bone, namun karena kurangnya data/lontara’ yang mendukung,
penulis menafikan pernyataan tersebut.
Konflik antar kalula berlangsung selama
bertahun-tahun. Masing-masing mengkalim sebagai keturunan La Galigo
yang, karena keterbatasannya tidak mampu menunjukkan bukti-bukti (mereka
belum mengenal silsilah), merasa berhak atas kepemimpinan dikalangan
kalula. Semangat kejahiliyahan membara untuk saling atas-mengatasi
sehingga perang saudara (kelompok) tidak bisa dihindari.
.:Catatan:. ada yang
menafsir satu pariama sama dengan seratus tahun, ada pula yang
mengatakan sepuluh tahun; namun beberapa informasi dari lontara’ lebih
rasional mengikuti yang sepuluh tahun).
Jumat, 09 Agustus 2013
SEJARAH BUGIS DI MALAYSIA
Salasilah Keturunan BUGIS di Malaysia
Sebaik sahaja Raja Bugis menerima utusan
dari Raja Sulaiman, angkatan tentera Bugis terus datang dengan 7 buah
kapal perang menuju ke Riau. Raja Kechil telah ditumpaskan di Riau dan
melarikan diri ke Lingga dalam tahun Hijrah 1134. Sebagai balasan, Raja
Sulaiman telah bersetuju permintaan Raja Bugis dimana mereka mahukan
supaya raja-raja Bugis dilantik sebagai Yamtuan Besar atau Yang
Di-Pertuan Muda, bagi memerintah Johor, Riau and Lingga secara bersama
jika semuanya dapat ditawan.
Setelah Bugis berjaya menawan Riau, Raja Sulaiman kemudiannya pulang ke Pahang, manakala raja Bugis pula pergi ke Selangor untuk mengumpulkan bala tentera dan senjata untuk terus menyerang Raja Kechil. Semasa peninggalan tersebut, Raja Kechil telah menawan semula Riau semasa raja Bugis masih berada di Selangor.
Setelah mendapat tahu Riau telah ditawan oleh Raja Kechil, Bugis terus kembali dengan 30 buah kapal perang untuk menebus semula Riau, semasa dalam perjalanan menuju ke Riau, mereka telah menawan Linggi (sebuah daerah di Negeri Sembilan) yang dikuasai oleh Raja Kechil. Setelah Raja Kechil mendapat tahu akan penawanan itu, baginda telah datang ke Linggi untuk menyerang balas.
Pehak Bugis telah berpecah dimana 20 buah dari kapal perangnya meneruskan perjalanan menuju ke Riau dan diketuai oleh 3 orang dari mereka. Raja Sulaiman telah datang dari Pahang dan turut serta memberi bantuan untuk menawan semula Riau. Dalam peperangan ini mereka telah berjaya menawan kembali Riau dimana kemudiannya Raja Sulaiman dan Bugis telah mendirikan kerajaan bersama.
Setelah mengetahui penawanan Riau tersebut, Raja Kechil kembali ke Siak kerana baginda juga telah gagal menawan semula Linggi dari tangan Bugis. Hingga kini Linggi telah didiami turun-temurun oleh keturunan Bugis dan bukan daerah Minangkabau.
Pada tahun 1729, Bugis sekali lagi menyerang Raja Kechil di Siak dimasa Raja Kechil ingin memindahkan alat kebesaran DiRaja Johor (Sebuah Meriam) ke Siak. Setelah mengambil semula kebesaran DiRaja tersebut, Raja Sulaiman kemudiannya ditabalkan sebagai Sultan Johor dengan membawa gelaran Sultan Sulaiman Badrul Alam Shah yang memerintah Johor, Pahang, Riau, and Linggi.
Sultan Sulaiman telah melantik Daeng Marewah sebagai Yamtuan Muda Riau. Kemudian adik perempuannya Tengku Tengah pula dikahwinkan dengan Daeng Parani yang mana telah mangkat di Kedah semasa menyerang Raja Kechil disana. Seorang lagi adik Sultan Sulaiman Tengku Mandak dikahwinkan dengan Daeng Chelak ( 1722-1760) yang dilantik sebagai Yamtuan Muda II Riau 1730an. Kemudian anak Daeng Parani, Daeng Kemboja dilantik menjadi Yamtuan Muda III Riau (yang juga memerintah Linggi di Negeri Sembilan).
Anak Daeng Chelak, Raja Haji dilantik sebagai Yamtuan Muda IV Riau dimana baginda telah hampir dapat menawan Melaka dari tangan Belanda dalam tahun 1784 tetapi akhirnya baginda mangkat setelah ditembak dengan peluru Lela oleh Belanda di Telok Ketapang, Melaka. Baginda telah dikenali sebagai Al-Marhum Telok Ketapang.
Dalam tahun 1730an, seorang Bugis bernama Daeng Mateko yang berbaik dengan Raja Siak mengacau ketenteraman Selangor.
Ini menjadikan Daeng Chelak datang ke Kuala Selangor dengan angkatan perang dari Riau. Daeng Mateko dapat dikalahkan kemudiannya beliau lari ke Siak. Dari semenjak itulah daeng Chelak sentiasa berulang-alik dari Riau ke Kuala Selangor. Lalu berkahwin dengan Daeng Masik Arang Pala kemudian dibawa ke Riau.
Ketika Daeng Chelak berada di Kuala Selangor penduduk Kuala Selangor memohon kepada beliau supaya terus menetap di situ sahaja. Walau bagaimana pun Daeng Chelak telah menamakan salah seorang daripada puteranya iaitu Raja Lumu datang ke Kuala Selangor. Waktu inilah datang rombongan anak buahnya dari Riau memanggil Daeng Chelak pulang ke Riau dan mangkat dalam tahun 1745.
| Salasilah Keturunan DAENG CHELAK | |
| Salasilah Kesultanan Selangor | |
| Sultan Salehuddin (Raja Lumu – 1742-1778) | |
| Sultan Ibrahim (1778-1826) | |
| Sultan Muhamad (1826-1857) dan kesultanan Selangor seterusnya. |
Sebaik sahaja Raja Bugis menerima utusan
dari Raja Sulaiman, angkatan tentera Bugis terus datang dengan 7 buah
kapal perang menuju ke Riau. Raja Kechil telah ditumpaskan di Riau dan
melarikan diri ke Lingga dalam tahun Hijrah 1134. Sebagai balasan, Raja
Sulaiman telah bersetuju permintaan Raja Bugis dimana mereka mahukan
supaya raja-raja Bugis dilantik sebagai Yamtuan Besar atau Yang
Di-Pertuan Muda, bagi memerintah Johor, Riau and Lingga secara bersama
jika semuanya dapat ditawan.Setelah Bugis berjaya menawan Riau, Raja Sulaiman kemudiannya pulang ke Pahang, manakala raja Bugis pula pergi ke Selangor untuk mengumpulkan bala tentera dan senjata untuk terus menyerang Raja Kechil. Semasa peninggalan tersebut, Raja Kechil telah menawan semula Riau semasa raja Bugis masih berada di Selangor.
Setelah mendapat tahu Riau telah ditawan oleh Raja Kechil, Bugis terus kembali dengan 30 buah kapal perang untuk menebus semula Riau, semasa dalam perjalanan menuju ke Riau, mereka telah menawan Linggi (sebuah daerah di Negeri Sembilan) yang dikuasai oleh Raja Kechil. Setelah Raja Kechil mendapat tahu akan penawanan itu, baginda telah datang ke Linggi untuk menyerang balas.
Pehak Bugis telah berpecah dimana 20 buah dari kapal perangnya meneruskan perjalanan menuju ke Riau dan diketuai oleh 3 orang dari mereka. Raja Sulaiman telah datang dari Pahang dan turut serta memberi bantuan untuk menawan semula Riau. Dalam peperangan ini mereka telah berjaya menawan kembali Riau dimana kemudiannya Raja Sulaiman dan Bugis telah mendirikan kerajaan bersama.
Setelah mengetahui penawanan Riau tersebut, Raja Kechil kembali ke Siak kerana baginda juga telah gagal menawan semula Linggi dari tangan Bugis. Hingga kini Linggi telah didiami turun-temurun oleh keturunan Bugis dan bukan daerah Minangkabau.
Pada tahun 1729, Bugis sekali lagi menyerang Raja Kechil di Siak dimasa Raja Kechil ingin memindahkan alat kebesaran DiRaja Johor (Sebuah Meriam) ke Siak. Setelah mengambil semula kebesaran DiRaja tersebut, Raja Sulaiman kemudiannya ditabalkan sebagai Sultan Johor dengan membawa gelaran Sultan Sulaiman Badrul Alam Shah yang memerintah Johor, Pahang, Riau, and Linggi.
Sultan Sulaiman telah melantik Daeng Marewah sebagai Yamtuan Muda Riau. Kemudian adik perempuannya Tengku Tengah pula dikahwinkan dengan Daeng Parani yang mana telah mangkat di Kedah semasa menyerang Raja Kechil disana. Seorang lagi adik Sultan Sulaiman Tengku Mandak dikahwinkan dengan Daeng Chelak ( 1722-1760) yang dilantik sebagai Yamtuan Muda II Riau 1730an. Kemudian anak Daeng Parani, Daeng Kemboja dilantik menjadi Yamtuan Muda III Riau (yang juga memerintah Linggi di Negeri Sembilan).
Anak Daeng Chelak, Raja Haji dilantik sebagai Yamtuan Muda IV Riau dimana baginda telah hampir dapat menawan Melaka dari tangan Belanda dalam tahun 1784 tetapi akhirnya baginda mangkat setelah ditembak dengan peluru Lela oleh Belanda di Telok Ketapang, Melaka. Baginda telah dikenali sebagai Al-Marhum Telok Ketapang.
Dalam tahun 1730an, seorang Bugis bernama Daeng Mateko yang berbaik dengan Raja Siak mengacau ketenteraman Selangor.
Ini menjadikan Daeng Chelak datang ke Kuala Selangor dengan angkatan perang dari Riau. Daeng Mateko dapat dikalahkan kemudiannya beliau lari ke Siak. Dari semenjak itulah daeng Chelak sentiasa berulang-alik dari Riau ke Kuala Selangor. Lalu berkahwin dengan Daeng Masik Arang Pala kemudian dibawa ke Riau.
Ketika Daeng Chelak berada di Kuala Selangor penduduk Kuala Selangor memohon kepada beliau supaya terus menetap di situ sahaja. Walau bagaimana pun Daeng Chelak telah menamakan salah seorang daripada puteranya iaitu Raja Lumu datang ke Kuala Selangor. Waktu inilah datang rombongan anak buahnya dari Riau memanggil Daeng Chelak pulang ke Riau dan mangkat dalam tahun 1745.
Kamis, 08 Agustus 2013
Tiga Orang Datuk asal Minangkabau Penyebar Islam di Tanah Bugis
Walaupun
banyak yang sudah tahu, bahwasanya ada tiga orang datuk yang berasal
dari Minangkabau itu – paling tidak berasal dari tanah Sumatera, yang
mengislamkan wilayah-wilayah kerajaan di Sulawesi Selatan pada abad 16,
yaitu :1. Khatib Tunggal Datuk Makmur, atau populer di kalangan masyarakat Sulsel dengan nama Datuk Ribandang.
2. Khatib Sulung Datuk Sulaiman dikenal Datuk Patimang.
3. Syekh Nurdin Ariyani dikenal dengan nama Datuk RiTiro. Akan tetapi penulis yakin masih banyak generasi muda minang yang belum mendapat informasi seputar jasa tiga orang datuk dari Minangkabau, yang menyebarkan agama islam di Sulawesi Selatan.
Dari berbagai sumber, penulis berhasrat menyampaikan perihal tiga orang datuk yang disebut-sebut dari Minangkabau serta sebelumnya penulis tertegun didalam hati – adakah tiga orang datuk ini – masuk dalam bagian sejarah di Minangkabau ? Apa dan bagaimana perjuangan dan kiprah mereka dalam penyebaran agama islam di Sulawesi Selatan ini ? Berikut ini saya mencoba menyimpulkan sebagai berikut :
1. Wilayah Tallo dan Goa :
Sekitar awal abad ka 17, ketiga orang datuk ini mengislamkan Raja Tallo, pada hari Jumat 14 Jumadil Awal atau 22 September 1605, kemudian menyusul Raja Gowa XIV, yang akhirnya bernama Sultan Alauddin.” Kerajaan Tallo dan kerajaan Gowa merupakan kerajaan kembar yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Bahkan Mangkubumi (Perdana Menteri) kerajaan Gowa adalah juga Raja Tallo. Raja Tallo XV, Malingkaan Daeng Manynyonri merupakan orang pertama di Sulsel yang memeluk agama Islam melalui seorang ulama dari pantai Barat Sumatera, Khatib Tunggal Datuk Makmur, atau populer di kalangan masyarakat Sulsel dengan nama Datuk Ribandang. Oleh karena itu pulalah kerajaan Tallo sering disebut-sebut atau diistilahkan sebagai pintu pertama Islam di daerah ini atau dalam bahasa Makassar ” Timunganga Ri Tallo”.
Kemudian Raja Gowa secara resmi mengumumkan bahwa agama resmi kerajaan Gowa dan seluruh daerah bawahannya adalah agama Islam. Sebelum masuknya agama Islam di Sulsel, masyarakat masih menganut kepercayaan animisme. Dalam riwayat dikisahkan bahwa awalnya Datuk Ribandang sendiri bersama kawannya dilihat oleh rakyat kerajaan Tallo sedang melakukan shalat Asyar di tepi pantai Tallo. Karena baru pertama kalinya itu rakyat melihat orang shalat, mereka spontan beramai-ramai menuju istana kerajaan Tallo untuk menyampaikan kepada Raja tentang apa yang mereka saksikan. Raja Tallo kemudian diiringi rakyat dan pengawal kerajaan menuju tempat Datuk Ribandang dan kawan-kawannya melakukan shalat itu.
Begitu melihat Datuk Ribandang sedang shalat, Raja Tallo dan rakyatnya secara serempak berteriak-teriak menyebutkan ”Makkasaraki nabi sallalahu” artinya berwujud nyata nabi sallallahu. Inilah salah satu versi tentang penamaan Makassar, itu berasal dari ucapan ‘Makkasaraki’ tersebut yang berarti kasar/nyata.
Ada beberapa versi tentang asal mula dinamakannya Makassar selain versi tersebut. Datuk Ribandang sendiri menetap di Makassar dan menyebarkan agama Islam di Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan wafat di Tallo. Sementara itu dua temannya, masing-masing Datuk Patimang yang nama aslinya Khatib Sulung Datuk Sulaiman, menyebarkan agama Islam di daerah Suppa, Soppeng, Wajo dan Luwu, dan wafat dan dikebumikan di Luwu. Sedang Datuk RiTiro atau nama aslinya Syekh Nurdin Ariyani berkarya di sejumlah tempat meliputi Bantaeng, Tanete, Bulukumba. Dia wafat dan di makamkan di Tiro atau Bontotiro sekarang.
Dengan kedatangan kolonial Belanda , seluruh benteng-benteng pertahanan kerajaan Gowa di hancurkan kecuali benteng Somba Opu yang diperuntukkan bagi kerajaan Gowa dan benteng Ujungpandang (Fort Rotterdam) untuk pemerintahan kolonial Belanda, benteng pertahanan kerajaan Tallo juga dihancurkan. Penghancuran benteng-benteng pertahanan kerajaan Gowa-Tallo itu sesuai perjanjian Bungaya, 18 Nopember 1667, yang merupakan pula tahun kemunduran kejayaan kerajaan Gowa-Tallo waktu itu.
2. Makassar – Bulukumba – Luwu ;
Sentuhan ajaran agama islam yang dibawa oleh ulama besar dari Sumatera itu, juga terdapat di Bagian selatan Sulawesi Selatan yang lain, yaitu Kabupaten Bulukumba, yang bertumpu pada kekuatan lokal dan bernafaskan keagamaan”. masing-masing dibawa oleh 3 orang Datuk ; bergelar Dato’ Tiro (Bulukumba), Dato Ribandang (Makassar), dan Dato Patimang (Luwu),
3. Sementara dalam itu sejarah Islam Kabupaten Luwu dan Palopo, menerangkan bahwa kira-kira pada akhir abad XV M dan kira-kira pada tahun 1013 H, Agama Islam masuk didaerah Luwu yang dibawah oleh seorang alim Ulama yang arief ketatanegaraannya yaitu Datuk Sulaeman asal Minangkabau.
Pada waktu itu Luwu diperintah oleh seorang Raja yang bernama Etenrieawe. Ketika Datuk Sulaeman mengembangkan ajaran agama Islam di wilayah ini, hampir seluruh masyarakat Luwu menerima agama itu. Ketika itu kerajaan dibawah naungan Pemerintahan Raja Patiarase yang diberi gelar dengan Sultan Abdullah ( saudara kandungnya bernama Patiaraja dengan gelar Somba Opu) sebagai pengganti dari Raja Etenriawe, kemudian Datuk tersebut dalam mengembangkan Misi Islam, dibantu oleh dua ulama ahli fiqih yaitu Datuk Ribandang yang wafat di Gowa, dan Datuk Tiro yang wafat di Kajang Bulukumba .dan Datuk Sulaeman wafat di Pattimang Kecamatan Malangke, _+ 60 Km jurusan utara Kota Palopo melalui laut .
Datuk Sulaeman yang berasal dari Minangkabau ini kemudian dikenal dengan nama Datuk Patimang, karena beliau wafat dan dimakamkan di Pattiman.
4. Tak kurang ada sebuah hikayat yang mengkisahkan bahwa Al Maulana Khatib Bungsu (Dato Tiro) beserta kedua sahabatnya (Datuk Patimang dan Datuk Ribandang) mendarat di pelabuhan Para-para. Setibanya di darat, ia langsung menuju perkampungan terdekat untuk memberitahukan kedatangannya kepada kepala negeri. Namun dalam perjalanan menuju rumah kepala negeri, Dato Tiro merasa haus, dan beliau pun bermaksud untuk mencari air minum namun disepanjang pantai tersebut tidak terdapat sumur yang berair tawar. Dato Tiro menghujamkan tongkatnya di salah satu batu di tepi pantai Limbua sambil mengucap kalimat syahadat “Asyhadu Ala Ilahaillallah wa Ashadu Anna Muhammadarrasulullah”, anehnya setelah tongkatnya dicabut, keluarlah air yang memancar dari lubang di bibir batu tersebut. Pancaran air sangat besar dan tidak henti-hentinya mengalir sehingga akhirnya membentuk sebuah genangan air.Penduduk dan para pelaut kemudian memanfaatkan mata air ini untuk keperluan hidup sehari-hari. Hingga saat ini mata air tersebut tidak pernah kering dan ramai dikunjungi masyarakat.
5. Penulis belum menemukan Informasi di Ranah Minang mengenai siapakah gerangan jati diri tiga orang datuk ini yang diduga berasal dari Minangkabau.? Apakah ia berasal dari didikan dan santri dari Ranah Minang ?.
Ternyata Dari Sumber ; http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Islam/Giri.htm, diperoleh informasi bahwa para santri pesantren Sunan Giri – selain – dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih di Pulau Jawa dan ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara, ternyata para santri Sunan Giri ini – juga menyebarkan agama Islam hingga Sulawesi Selatan. Mereka itu adalah Datuk Ribandang dan dua sahabatnya. Mereka adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.
6. Sesungguhnya sebelum kedatangan tiga orang datuk ke tanah Bugis ini, telah ada beberapa penganjur Islam selain tiga orang datuk dari minangkabau, yaitu Sayyid Jamaluddin al-husayni al akbari yang merupakan kakek dari Walisongo. Ini berarti Islam sudah datang ke tanah Bugis, pada saat kedatangan para datuk’ (Datuk riBandang, Datuk riTiro dan Datuk riPatimang). Namun diterimanya agama Islam di kerajaan-kerajaan Bugis Makassar pada tahun 1598 (Gowa dan Luwu), menyusul Ajatappareng (Sidenreng, Rappang, Sawitto) pada tahun 1605, Soppeng (1607), Wajo (1609), dan Bone (1611) adalah berkat usaha ketiga para Datuk riBandang ini. Ia mengislamkan Karaeng Matoaya yang merupakan Mangkubumi kerajaan Makassar. Datuk Patimang (Datuk Sulaiman) mengislamkan Daeng Parabbung Datu Luwu dan Datuk riTiro memilih berdomisili di Bulukumba yang merupakan daerah perbatasan Bone dan Gowa untuk syiar Islam.
Islamnya Gowa adalah simbolitas kekuatan militer dan Luwu adalah pusat mitos Bugis Makassar. Dengan pengislaman dua kerajaan besar ini maka tidak ada alasan untuk menolak Islam bagi rakyatnya .
Islamisasi secara struktur adalah menjadikan syariat sebagai dasar negara. Sebelumnya telah ada ADE’, RAPANG, WARI, BICARA. Diterimanya Islam sebagai agama resmi kerajaan menjadikan syariat sebagai landasan kelima yaitu SARA’ akibatnya adalah dibuatkan jabatan struktural kerajaan yang baru yaitu QADHI, BILAL, KATTE’, DOJA sebagai perangkat syiar Islam kerakyat. 7. Pertanyaan kita sekarang. Apa yang menyebabkan tiga orang datuk ini berkunjung ke kerajaan-kerajaan di Sulsel itu untuk menyebarkan agama islam ?
a. Dugaan pertama karena masyarakat di wilayah itu masih menganut animisme sebagai mana yang telah diuraikan pada butir 1 diatas, sehingga raja Tallo dan Goa adalah raja yang pertama kali menganut agama islam.
b. Adanya persaingan antara Kristian dan Islam semakin sengit di Sulawesi Selatan pada awal abad ke 16 itu. Persaingan diantara Islam dan Kristian di Makassar disebabkan oleh raja Makassar sendiri yang tidak dapat memilih antara dua agama ini. Mereka meminta Abdul Makmur (Dato’ ri Bandang) datang melawat ke Makassar bersama dua orang temannya iaitu Sulaiman (Dato’ ri Pa’timang) dan Abdul Jawad (Dato’ ri Tiro). Kemudiannya Islam tersebar di seluruh Sulawesi Selatan atas jasa ketiga-tiga pendakwah ini. Dunia Bugis Pada Abad Ke 16 telah di ramaikan oleh berbagai komoditi perdagangan. Ekspor Sulawesi Selatan ketika itu ialah padi, yang diekspor ke Melaka, yang sudah dikuasai Portugal.
Pada tahun 1607, Sultan Johor yang bermusuhan dengan Portugis mencoba menghambat ekspor ini. Produk-produk pertanian lain adalah kelapa, buah-buahan dan sayur-sayuran. Jenis peternakan adalah kerbau, kambing, ayam dan itik. Sedangkan hasil-hasil alam yang dibawa dari kawasan Sulawesi dan sekitar nya yang diekspor antara lain ialah kayu cendana (dari Kaili dan Palu),kayu sapan (dari Sumba), kayu aguila, resin, dll Tidak ketinggalan bahan tekstil yang dibuat di Sulawesi Selatan yang cukup popular pada abad ke 16 itu. Pada tahun 1544 – kain putih – dikenal dengan sebutan “kain katun “, dijual pada harga 200 rial. Hal ini membuktikan bahwa Sulawesi Selatan sudah pun memasuki sistem perdagangan antar bangsa dan menggunakan mata uang asing (Portugis). Rial menjadi salah satu mata uang utama, dimana sebelumnya sistem penukaran uang belum dilakukan dengan cara ini.
Tahukah Anda ?, pada masa itu sebelum mengenal sistem pertukaran uang, kerbau adalah satuan penukaran dan mungkin dijadikan sebagai petunjuk utama. Yang menyedihkan kala itu, terdapat juga komoditi ekspor baru yaitu budak. Kebanyakan para budak itu adalah para tawanan perang yang yang entah siapa saja, meliputi kanak-kanak dan wanita yang berasal dari ditawan Bugis. Harga seorang hamba boleh mencapai 1000 rial..!! yang ketika itu merupakan suatu tawaran yang cukup menarik bagi Portugis. Perdagangan budak semula mendapat tempat pada abad 15 itu, disebabkan oleh permintaan dari luar. Sejalan dengan dengan dihapuskannya perdagangan budak didunia, bangsa asing yang masuk kewilayah Sulawesi mengalihkan perhatiannya pada Emas. Pertambangan Emas berada di pergunungan Toraja dan Luwu’. Selain itu Mineral-mineral lain yang diekspor ialah besi (dari Luwu’ dan Banggai), kuprum dan plumbum. Apa jadinya wilayah Sulawesi pada kondisi dikuasai oleh pengaruh asing – Portugis, Spanyol, jika sekiranya tidak ada tiga orang datuk yang berasal dari Minangkabau di tanah Sumatera berkunjung ke Sulawesi Selatan pada akhir abad 16 itu.
Bangsa Portugis dan Spanyol adalah bangsa yang sangat berkepentingan untuk meraup hasil bumi di pulau Celebes dan Maluku. Langkah lebih lanjut adalah adakah intitusi di Ranah Minang yang melakukan penelitian tentang kiprah Tiga Orang Datuk ini bagi penyebaran agama Islam. Pada empat abad sebelum sekarang, mereka telah berjihad bagi agama islam yang merupakan fondasi dasar bagi ciri orang Minangkabau. Bagaimana sikap kita dalam memposisi tiga orang datuk ini dalam sejarah Minangkabau ?
Rabu, 07 Agustus 2013
BAGAIMANAKAH IKHWAN SEJATI ITU ?!?
Seorang remaja pria bertanya pada ibunya: Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati...
Sang
Ibu tersenyum dan menjawab... Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari
bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang
disekitarnya....
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.....
Selasa, 06 Agustus 2013
Kota Kalong
A. Selayang Pandang
Watan Soppeng adalah salah satu kota kabupaten tercantik di Provinsi
Sulawesi Selatan. Suasana di dalam kota tampak teduh, karena hampir
semua ruas jalan dipenuhi oleh pohon asam dan jenis pohon lainnya yang
berjejer di sisi kiri dan kanan jalan. Kota kecil dan berhawa sejuk
ini berada di pegunungan dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan
laut.Menurut catatan sejarah, sebagaimana tertulis dalam Lontara Bugis (tulisan kuno orang Bugis), Kota Soppeng merupakan bekas kota kerajaan masa lampau yang memiliki wilayah kekuasaan dan pengaruh yang cukup luas. Di kota ini terdapat komplek Istana Raja (Datu) Soppeng yang dibangun oleh I Latemmamala yang bergelar Petta Bakkae pada tahun 1261 M. Di dalam komplek tersebut terdapat sejumlah bangunan, di antaranya: Bola RidiE (Rumah Kuning), yaitu tempat penyimpanan benda-benda atribut Kerajaan Soppeng; SalassaE, yaitu bekas Istana Datu Soppeng; dan Menhir Latammapole, yaitu tempat melaksanakan hukuman bagi para pelanggar adat. Di kota ini juga terdapat komplek makam Jera LompoE dan KalokoE Watu. Di dalam komplek makam Jera LompoE terdapat makam Raja-raja (Datu) Soppeng, Luwu dan Sidrap pada abad XVII. Sementara di dalam komplek KalokoE Watu terdapat makam We Tenri Sui, ibu kandung Arung Palakka.
B. Keistimewaan
Kota Watan Soppeng memiliki keunikan yang sangat mengagumkan, sehingga ia dijuluki sebagai “Kota Kalong” atau “Kota Pekalongan” (bukan nama kota yang ada di Pulau Jawa). Pengunjung jangan terkejut ketika memasuki jantung Kota Watan Soppeng, karena akan mencium bau khas yang sangat menyengat hidung. Bau khas itu tidak lain adalah bau kalong atau kelelawar. Bau kalong tersebut akan semakin menyengat jika pengunjung berada tepat di bawah pohon tempat para kalong tersebut bergelantungan.Menjelang malam, kalong-kalong tersebut terbang meninggalkan pepohonan untuk mencari makan. Saat kalong-kalong yang jumlahnya ribuan tersebut terbang, langit seakan tertutup oleh bayangan hitam. Kawanan kalong tersebut akan kembali ke pepohonan pada subuh hari dengan suara gemuruh seakan membangunkan warga Kota Soppeng untuk segera melaksanakan shalat subuh dan melakukan aktivitas sehari-hari
Tidak seorang pun penduduk yang tahu persis kapan tepatnya kalong-kalong tersebut mulai bersarang di atas pepohonan yang berjejer di ruas-ruas jalan Kota Watan Soppeng. Masyarakat hanya meyakini bahwa keberadaan kalong yang mirip tikus tersebut sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Lebih dari itu, mereka juga meyakini bahwa kalong-kalong tersebut merupakan “penjaga” kota Watan Soppeng. Bahkan, mereka sangat percaya bahwa kalong-kalong tersebut menjadi pertanda dan pemberi informasi tentang sesuatu yang baik dan buruk yang akan terjadi di kota ini. Jika kalong-kalong tersebut pergi meninggalkan Kota Watan Soppeng dalam waktu yang lama, maka itu sebagai pertanda bahwa akan terjadi bencana yang menimpa masyarakat dan kota tersebut.
Terbakarnya Pasar Sentral Soppeng pada tahun 1990 diyakini oleh masyarakat setempat merupakan akibat dari ditebangnya pohon besar yang menjadi tempat tinggal raja atau pemimpin kalong tersebut. Sejak peristiwa itu, masyarakat setempat tidak pernah lagi mengusik keberadaan satwa tersebut. Untuk mengembalikan kawanan kalong tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama. Kawanan kalong tersebut baru akan kembali jika masyarakat setempat mengadakan upacara khusus yang dirangkaikan dengan penyembelihan beberapa ekor kerbau.
Ada juga mitos yang berkembang di kalangan masyarakat Soppeng bahwa jika seorang pengunjung terkena kotoran kalong-kalong tersebut, maka ia akan mendapatkan gadis atau pemuda Kota Watan Soppeng. Anda penasaran dengan mitos tersebut? Kunjungilah kota ini untuk membuktikannya!
C. Lokasi
Kota Watan Soppeng merupakan ibu kota Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.D. Akses
Kota Watan Soppeng terletak 150 kilometer di sebelah utara Kota Makassar. Dari Kota Makassar, perjalanan ditempuh selama 4 – 5 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum berupa mobil panther atau kijang, dengan tarif sekitar Rp. 40.000,-. Per-orang.E. Harga Tiket Masuk
Pengunjung yang datang ke Kota Soppeng tidak dikenai tiket masuk.F. Akomodasi dan Fasilitas
Di Kota Watan Soppeng tersedia berbagai macam fasilitas, seperti warung makan, restoran, penginapan, wiswa, motel, hotel, dan villa. Selain itu, juga terdapat Masjid Raya Soppeng yang berdiri dengan megah dan indah tepat di jantung kota, yang tak jauh dari pepohonan tempat kawanan kalong tersebut bergelantungan.(Sumber wisata melayu)
Senin, 05 Agustus 2013
HIDUP SEMANGAT PENUH ARTI
Hidup yang semangat dan penuh motivasi adalah
kunci sukses dalam segala hal, ada sebuah pepatah mengatakan. Hidup yang dijalani dengan
tidak semangat tidak akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan,
namun hidup yang dijaga agar senantiasa semangat akan menciptakan sebuah
kondisi yang membuat hidup tetap sehat dan tetap luarbiasa sukses. Pengalaman
pribadai penulis sendiri hal yang memotivasi agar tetap semangat dalam mencari
ilmu diantaranya:
Minggu, 04 Agustus 2013
Problematika Perbedaan Keberagaman Umat Islam
Islam
itu satu akan tetapi alirannya atau pemahaman yang beragam sebagaimana sabda
Nabi Muhammad SAW bahwasanya umat islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Keberagaman dalam hal pemahaman serta pengamalan
ajaran agama Islam tentu sudah menjadi sebuah realita bahkan sunnatullah yang
tidak perlu lagi diperdebatkan.
Sabtu, 03 Agustus 2013
Hiduplah Sederhana Wahai Para Pejabatku
Di Indonesia tindak pidana korupsi
seakan menjadi hal yang biasa untuk dilakukan terutama dikalangan pejabat. Para
pejabat seakan tidak mempunyai rasa malu untuk melakukan tindakan yang merugikan
negara ini. Mendapat gelar seorang Ust tidak menutup kemungkinan dia
menjadi korupsi seperti contoh yang sekarang sedang ramai dibahas di media, presiden
PKS yang ditangkap KPK karena korupsi dia adalah Luthfi
Jumat, 02 Agustus 2013
Massaung Manu,Tradisi Sabung Ayam Masyarakat Bugis
Massaung manuk adalah penamaan orang Bugis untuk sebuah permainan yang dalam bahasa Indonesia berarti sabung ayam. Massaung manuk
dahulu hanya dilakukan para raja dan bangsawan Bugis pada pagi atau
sore hari untuk memeriahkan pesta-pesta adat seperti: pelantikan raja,
perkawinan, dan panen raya. Konon, permainan ini bermula dari kegemaran
para raja yang sering mempertarungkan pemuda-pemuda di seluruh wilayah
kerajaannya untuk mencari tubarani-tubarani (pahlawan) kerajaan
yang akan dibawa ke medan pertempuran. Jadi, pada waktu itu yang
disabung bukanlah ayam melainkan manusia. Namun, lama-kelamaan, mungkin
karena semakin jarangnya terjadi peperangan antarkerajaan, pertarungan
antarmanusia itu berubah menjadi pertarungan antarayam yang dinamakan massaung manuk.
Langganan:
Komentar (Atom)



