Sejak masih dalam bimbingan ayahandanya tercinta, Nabi Sulaiman sadar bahwa ia dikarunia begitu besar nikmat oleh Allah swt. Nikmat yang jarAng sekali dimiliki oleh orang kebanyakan. “Segala puji bagi Allah yAng telah melebihkan kami atas kebanyakan hamba-hambaNya yang beriman—yang tidak diberi ilmu seperti yang diberikan kepada kami.” Doanya setiap kali.
Ketika Nabi Daud meninggal dunia, hanya Sulaiman di antara putra-putranya yang mewarisi kenabian dan kerajaan.
Namun Sulaiman sama seklai tidak pongah atau takabur. Ia bahkan suatu kali mengundang pembesar-pembesar dan para cerdik pandai yang ada dalam kerajaannya. Kepada mereka ia berkata bahwa kelebihannya mengerti bahasa binatang merupakan karunia Allah semata.
Namun sebagai seorang Nabi, ia pun tak luput dari ujian. Allah menguji Sulaiman dengan berbagai penyakit yang berat. Jika ia duduk di atas kursi, tampak seakan-akan ia sebagai jasad yang tak mempunyai ruh. Penyakit ini disebabkan ia terlalu banyak bekerja
Suatu kali, Nabi Sulaiman kehilangan burung Hudhudnya.
PUSAT PENDIDIKAN BERBASIS KOMPETENSI, INOVATIF, DAN BERAKHLAKUL KARIMAH DALAM MENEPIS BUDAYA AMORAL DARI PENGARUH GLOBAL
Selasa, 04 Maret 2014
Senin, 03 Maret 2014
HUKUM MEMELIHARA ANJING
Memelihara anjing termasuk najis, akan tetapi jika seorang muslim memelihara anjing sekedar untuk keamanan rumah dan dia ditempatkan di luar di ujung komplek. Bagaimana dia mensucikan dirinya? Apa hukumnya jika dia tidak mendapatkan debu atau tanah untuk membersihkan dirinya? Apakah ada benda pengganti yang dapat digunakan seorang muslim untuk membersihkan dirinya? Kadang-kadang orang itu membawa anjing tersebut untuk berlari, kadang anjing tersebut merangkul dan menciumnya…
Alhamdulillah.Pertama: Syariat yang suci telah mengharamkan memeliharat anjing. Siapa yang menentang ajaran ini (dengan memelihara anjing) maka akan dihukum dengan mengurangi kebaikannya sebanyak satu qirath atau dua qirath setiap hari. Dikecualikan dalam hal ini jika memelihara bertujuan untuk berburu, menjaga ternak dan menjaga pertanian.
Minggu, 02 Maret 2014
PENGAKUAN IBLIS KEPADA RASULULLAH DALAM MENGGANGGU ORANG SHALAT
Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal r.a. dari Ibn Abbas r.a. [dalam Kisah Dialog Rasulullah SAW Dengan Iblis];
Wahai Muhammad, sesungguhnya diantara umatmu ada yang meng-akhirkan shalat barang satu dua jam. Setiap kali mau shalat, aku temani dia dan aku goda dia. Kemudian aku katakan kepadanya:” Masih ada waktu, sementara engkau sibuk”. Sehingga dia mengakhirkan shalatnya dan mengerjakannya tidak pada waktunya, maka Tuhan memukul wajahnya.
Jika ia menang atasku, maka aku kirim satu syaithan yang membuatnya lupa waktu shalat.
Jika ia menang atasku, aku tinggalkan dia sampai ketika mengerjakan shalat aku katakan kepadanya,’ Lihatlah kiri-kanan’, lalu ia menengok. Saat itu aku usap wajahnya dengan tanganku dan aku cium antara kedua matanya dan aku katakan kepadanya,’ Aku telah menyuruh apa yang tidak baik selamanya’.
Dan engkau sendiri tahu wahai Muhammad, siapa yang sering menoleh dalam shalatnya, Allah akan memukul wajahnya.
Jika ia menang atasku dalam hal shalat, ketika shalat sendirian, aku perintahkan dia untuk tergesa-gesa.
Sabtu, 01 Maret 2014
12 Kesalahan Yang Sering Terjadi Dalam Mendirikan Shalat
Shalat adalah tiang agama dan rukun Islam yang kedua, dia adalah ibadah yang pertama kali akan dipertanggung jawabkan oleh seorang hamba di hadapan Allah SWT pada hari kiamat. Maka wajib bagi setiap muslim memperhatikan pelaksanaan shalat ini sebgaimana yang telah diperintakan oleh Nabi Muhammad SAW dan dengan tata cara yang telah dijelaskan oleh beliau.
Diriwyatkan dari Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya dari hadits Malik bin Al-Huwairits bahwa Nabi bersabda:
"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat”[1].
Diriwayatkan oleh Al-Thabrani di dalam kitab Al-Ausath dari Abdullah bin Qorth bahwa Nabi bersabda:
"Amalan hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat, apabila baik maka baiklah seluruh amalnya dan apabila rusak maka rusaklah seluruh amalnya”.[2]
Lalu, apakah cara shalat yang kita lakukan sudah benar seperti yang dicontohkan Rasulullah?
Rabu, 12 Februari 2014
Cerita Abu Nawas Berak Di Tempat Tidur
Suatu hari Abu Nawas kedatangan tiga orang tamu utusan baginda Raja Harun Al Rasyid."Kami diutus oleh baginda Raja untuk berak di tempat tidurmu. Karena ini perintah Raja kamu tidak boleh menolak," kata salah seorang mereka. "Saya sama sekali tidak keberatan. Silakan saja kalau kalian mampu melaksanakan perintah Raja," jawab Abu Nawas enteng.
"Betul?" tanya utusan Raja.
"Iya, silakan saja sahut Abu Nawas!" Abu Nawas mengawasi orang-orang itu beranjak ketempat tidurnya dengan geram. Berak di tempat tidur? Betul-betul kurang ajar, kelewat batas! Pada saat rnereka hendak bersiap-siap berak, mendadak Abu Nawas berkata,
"Hai, maaf. Ada yang lupa saya sampaikan kepada kalian:"
"Apa itu?"
"Saya ingatkan supaya kalian jangan rnelebihi perintah baginda Raja. Jika kalian melanggar, saya pukul tengkuk kalian dengan pentungan, setelah itu baru saya laporkan kepada Baginda bahwa kalian melanggar perintahnya." jawab Abu Nawas dengan serius. Bahkan kini Abu Nawas sudah mengarnbil pentungan kayu besar.
Selasa, 11 Februari 2014
Cerita Abu Nawas Anak Sang Pedagang
Ketika perang Salib, Nasrudin tertangkap musuh dan dia dikenai kerja paksa di sebuah parit dekat benteng perang Aleppo. Kerja paksa itu, dirasa oleh Nasrudin begitu sangat rnelelahkan sehingga sang Mullah sering kali berkeluh kesah.Suatu hari, seorang pedagang yang telah mengenal dekat dengan Nasrudin lewat jalan ditempatnya bekerja paksa, dan kemudian sang pedagang menebus sang Mullah dengan tiga puluh uang keping perak. Nasrudin dibawa pulang oleh sang pedagang, dan diperlakukan dengan baik sekali. Sang pedagang, juga memberikan anak perempuannya kepada sang Mullah untuk diperistri oleh Nasrudin.
Sekarang, hidup Nasrudin sudah lebih baik. Tapi tampaknya anak perempuan dari sang pedagang mulai suka marah-rnarah.
"Engkau adalah laki-laki yang dibeli ayahku dengan barter tiga puluh uang keping perak," kata wanita itu suatu hari, Ayahku kemudian memberikan engkau kepadaku."
"Ya," kata Nasrudin,
"Ayahmu membayar uang tebusan sebanyak tiga puluh keping perak, lalu engkau tidak memperoleh apa-apa dari aku, dan aku sendiri sebenarnya juga sudah kehilangan otot-otot sewaktu aku menggali parit-parit."
Senin, 10 Februari 2014
Cerita Abu Nawas Aku Sudah Tahu
Siapakah Abu Nawas
itu? Tokoh yang dianggap badut namun juga dianggap ulama besar ini,
tokoh super lucu yang tiada bandingnya ini aslinya orang Persia yang
dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwas dan beliau meninggal pada tahun 819 M dikota Baghdad.
Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar
bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang badui padang
pasir. Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat
dan kegemaran orang Arab. Ia juga pandai bersyair, berpantun dan
rnenyanyi. Ia sempat pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad
bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al
Rasyid Raja Baghdad. Kita mulai saja kisah penggeli hati ini.
Ayah dari Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari ayah dari Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhimya meninggal dunia. Abu Nawas dipanggil ke istana. Ia diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah ayahnya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tata cara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo'akannya. Maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas rnenjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya. Namun...demi mendengar rencana sang Sultan. Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila.
Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari batang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan ayahnya menuju rumahnya. Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.
Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam ayahnya. Dan di atas makam ayahnya itu ia mengajak anak-anak berrnain rebana dan bersuka cita. Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal rnati oleh ayahnya.
Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas.
"Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana." kata wazir utusan Sultan.
"Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya." jawab Abu Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.
"Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu."
"Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar." kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan. Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas.
"Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?" kata wazir.
"Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu rnaka aku tidak mau." kata Abu Nawas.
"Apa maksudnya Abu Nawas?" tanya wazir dengan rasa penasaran.
"Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu." sergah Abu Nawas sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya. Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka melaporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid. Dengan geram Sultan berkata,
"Kalian bodoh semua, hanya rnenghadapkan Abu Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kernari dengan suka rela maupun terpaksa." Si wazir segera mengajak beberapa.prajurit istana. Dan dengan paksa Abu Nawas di hadirkan di hadapan raja. Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak bodoh bahkan tingkahnya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.
"Abu Nawas bersikaplah sopan!" tegur Baginda.
"Ya Baginda, tahukah Anda......?"
"Apa Abu Nawas...?"
"Baginda...terasi itu asalnya dari udang !"
"Kurang ajar kau menghinaku Nawas !'
"Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?"
Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada para pengawalnya.
"Hajar dia...! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali."
Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhimya lemas tak berdaya dipukuli tentara yang bertubuh kekar. Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.
"Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda akan dibagi dua; engkau satu bagian, aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?"
"Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepadaku tadi?"
"Iya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?"
"Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!"
"Wah temyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan sudah sering menerima hadiah dari Baginda." Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali. Tentu saja orang itu menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila. Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas rneninggalkannya begitu saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya. Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Al Rasyid.
"Wahai Baginda Raja, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang telah memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda."
Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya.
"Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan?" Berkata Abu Nawas,
"Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah sepatutnya dia menerima pukulan itu."
"Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau rnemukuli orang itu?" tanya Baginda. "Tuanku," kata Abu Nawas.
"Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah mengadakan perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu bagian untuk saya. Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya."
"Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau telah mengadakan perjanjian seperti itu dengan Abu Nawas?" tanya Baginda.
"Benar Tuanku," jawab penunggu pintu gerbang.
"Tapi hamba tiada mengira jika Baginda rnemberikan hadiah pukulan."
"Hahahahaha dasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!"sahut Baginda.
"Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget, suka memeras orang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akan mernecat dan menghukum kamu!"
"Ampun Tuanku," sahut penjaga pintu gerbang dengan gernetar. Abu Nawas berkata,
"Tuanku, hamba sudah lelah, sudah rnau istirahat, tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba." Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak,
"Hahahaha...jangan kuatir Abu Nawas." Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong uang perak kepada Abu Nawas.Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira. Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan. Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para menterinya.
"Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai kadi?" Wazir atau perdana menteri berkata,
"Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi." Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama.
"Tuanku, Abu Nawas telah rnenjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi."
"Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena ayahnya baru saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain saja." Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad. Konon dalam suatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak lama berambisi menjadi Kadi. Ia mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda unluk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, tatkala ia mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda menyetujuinya. Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan syukur kepada Tuhan. "Alhamdulillah aku telah terlepas dari balak yang mengerikan. Tapi....sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang lain saja." Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila?
Ceritanya begini: Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia panggil Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati ayahnya yang sudah lemah lunglai.
Berkata ayahnya,
"Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku." Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. Ia cium telinga kanan ayahnya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.
"Bagamaina anakku? Sudah kau cium?"
"Benar Ayah!"
"Ceritakan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku."
"Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Ayah yang sebelah kanan berbau harum sekali. Tapi... yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?"
"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?"
"Wahai ayahku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini." Berkata Syeikh Maulana.
"Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tak suka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jika kelak kau suka rnenjadi Kadi maka kau akan mengalami hal yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh Sultan Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan HarunAl Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Kadi."
Nah, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara. Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia senang diajak konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak rnasuk akal. - See more at: http://decocoz.blogspot.com/2013/05/cerita-abu-nawas-aku-sudah-tahu.html#sthash.vPHlbcZy.dpuf
Ayah dari Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari ayah dari Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhimya meninggal dunia. Abu Nawas dipanggil ke istana. Ia diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah ayahnya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tata cara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo'akannya. Maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas rnenjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya. Namun...demi mendengar rencana sang Sultan. Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila.
Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari batang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan ayahnya menuju rumahnya. Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.
Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam ayahnya. Dan di atas makam ayahnya itu ia mengajak anak-anak berrnain rebana dan bersuka cita. Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal rnati oleh ayahnya.
Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas.
"Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana." kata wazir utusan Sultan.
"Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya." jawab Abu Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.
"Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu."
"Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar." kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan. Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas.
"Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?" kata wazir.
"Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu rnaka aku tidak mau." kata Abu Nawas.
"Apa maksudnya Abu Nawas?" tanya wazir dengan rasa penasaran.
"Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu." sergah Abu Nawas sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya. Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka melaporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid. Dengan geram Sultan berkata,
"Kalian bodoh semua, hanya rnenghadapkan Abu Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kernari dengan suka rela maupun terpaksa." Si wazir segera mengajak beberapa.prajurit istana. Dan dengan paksa Abu Nawas di hadirkan di hadapan raja. Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak bodoh bahkan tingkahnya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.
"Abu Nawas bersikaplah sopan!" tegur Baginda.
"Ya Baginda, tahukah Anda......?"
"Apa Abu Nawas...?"
"Baginda...terasi itu asalnya dari udang !"
"Kurang ajar kau menghinaku Nawas !'
"Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?"
Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada para pengawalnya.
"Hajar dia...! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali."
Wah-wah! Abu Nawas yang kurus kering itu akhimya lemas tak berdaya dipukuli tentara yang bertubuh kekar. Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.
"Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda akan dibagi dua; engkau satu bagian, aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?"
"Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepadaku tadi?"
"Iya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?"
"Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!"
"Wah temyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan sudah sering menerima hadiah dari Baginda." Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali. Tentu saja orang itu menjerit-jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menjadi gila. Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas rneninggalkannya begitu saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya. Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Al Rasyid.
"Wahai Baginda Raja, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang telah memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda."
Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya.
"Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan?" Berkata Abu Nawas,
"Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah sepatutnya dia menerima pukulan itu."
"Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau rnemukuli orang itu?" tanya Baginda. "Tuanku," kata Abu Nawas.
"Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah mengadakan perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu bagian untuk saya. Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya."
"Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau telah mengadakan perjanjian seperti itu dengan Abu Nawas?" tanya Baginda.
"Benar Tuanku," jawab penunggu pintu gerbang.
"Tapi hamba tiada mengira jika Baginda rnemberikan hadiah pukulan."
"Hahahahaha dasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!"sahut Baginda.
"Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget, suka memeras orang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akan mernecat dan menghukum kamu!"
"Ampun Tuanku," sahut penjaga pintu gerbang dengan gernetar. Abu Nawas berkata,
"Tuanku, hamba sudah lelah, sudah rnau istirahat, tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba." Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak,
"Hahahaha...jangan kuatir Abu Nawas." Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong uang perak kepada Abu Nawas.Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira. Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan. Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para menterinya.
"Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai kadi?" Wazir atau perdana menteri berkata,
"Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi." Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama.
"Tuanku, Abu Nawas telah rnenjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi."
"Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena ayahnya baru saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain saja." Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad. Konon dalam suatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak lama berambisi menjadi Kadi. Ia mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda unluk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi, tatkala ia mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda menyetujuinya. Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan syukur kepada Tuhan. "Alhamdulillah aku telah terlepas dari balak yang mengerikan. Tapi....sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang lain saja." Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila?
Ceritanya begini: Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia panggil Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati ayahnya yang sudah lemah lunglai.
Berkata ayahnya,
"Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku." Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. Ia cium telinga kanan ayahnya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.
"Bagamaina anakku? Sudah kau cium?"
"Benar Ayah!"
"Ceritakan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku."
"Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Ayah yang sebelah kanan berbau harum sekali. Tapi... yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?"
"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?"
"Wahai ayahku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini." Berkata Syeikh Maulana.
"Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tak suka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jika kelak kau suka rnenjadi Kadi maka kau akan mengalami hal yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi maka buatlah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh Sultan Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan HarunAl Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Kadi."
Nah, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara. Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia senang diajak konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak rnasuk akal. - See more at: http://decocoz.blogspot.com/2013/05/cerita-abu-nawas-aku-sudah-tahu.html#sthash.vPHlbcZy.dpuf
Siapakah Abu Nawas itu? Tokoh yang dianggap badut namun juga dianggap ulama besar ini, tokoh super lucu yang tiada bandingnya ini aslinya orang Persia yang dilahirkan pada tahun 750 M di Ahwas dan beliau meninggal pada tahun 819 M dikota Baghdad. Setelah dewasa ia mengembara ke Bashra dan Kufa. Di sana ia belajar bahasa Arab dan bergaul rapat sekali dengan orang-orang badui padang pasir. Karena pergaulannya itu ia mahir bahasa Arab dan adat istiadat dan kegemaran orang Arab. Ia juga pandai bersyair, berpantun dan rnenyanyi. Ia sempat pulang ke negerinya, namun pergi lagi ke Baghdad bersama ayahnya, keduanya menghambakan diri kepada Sultan Harun Al Rasyid Raja Baghdad. Kita mulai saja kisah penggeli hati ini.Ayah dari Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari ayah dari Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhimya meninggal dunia. Abu Nawas dipanggil ke istana. Ia diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah ayahnya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tata cara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo'akannya. Maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas rnenjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya. Namun...demi mendengar rencana sang Sultan. Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila.
Minggu, 09 Februari 2014
Cerita Abu Nawas Nasihat Gratis
Cerita Abu Nawas Nasihat GratisCerita Abu Nawas SIASAT MENGHADAPI DIKTATOR
Kali ini kisah mengenai Nasruddin pada saat harus menghadapi penguasa tiran yang kejam. Ketika Timurleng menaklukkan Anatolia, ia mendengar tentang seorang laki-laki yang bernama Nasruddin yang hidup di Akshehir. Timurleng pergi keAkshehir, berkemah di situ dan kemudian mengirimkan satu peleton serdadu untuk menjemput Nasruddin ke kemahnya.
"Mari, Nasruddin," kata salah seorang serdadu itu. "Sang Maharaja menunggu kamu, kamu ikutlah sekarang."
Nasruddin berpikir bahwa karena Maharaja itu suka membunuh siapa saja yang ditemuinya, maka tidak ada gunanya tergesa-gesa memenuhi undangan tersebut.
Ketika Timurleng menyadari Nasruddin tidak mau segera datang, ia pun mengirim satu peleton serdadu lagi untuk mengundang Nasruddin. Tetapi Nasruddin berkata kepada mereka,
Timurleng menjadi tidak sabar. Ia memerintahkan agar kudanya segera disiapkan. Ia segera melompat ke kuda itu dan langsung melesat ke rumah Nasruddin di pinggiran kota Akshehir.
"Baiklah aku akan segera datang." Namun setelah itu Nasruddin tidak juga datang ke tendanya.
Di desa itu para petani mengerumuni Timurleng, dan beberapa orang di antara mereka yang berada di sekitar rumah Nasruddin berteriak. "Nasruddin cepat-cepat kau!"
Nasruddin pun mengenakan jubah dan serbannya yang besar dan berjalan mendekat Timurleng. Mereka bertemu di sebuah jalan sempit dan kuda yang dinaiki Timurleng begitu takut melihat tampang Nasruddin sehingga hewan itu melompat tinggi-tinggi dan Maharaja pun terpental dari kudanya.
Timurleng menjadi marah sehingga ia memerintahkan serdadu-serdadunya untuk menangkap Nasruddin dan menggantungnya. Setelah ia ditangkap oleh para serdadu itu, Nasruddin bertanya kepada mereka,
"Ke mana kalian ini akan membawa aku?"
"Untuk digantung" jawab mereka. .
"Coba kalian tanyakan kepada si Kurang Ajar itu" kata Nasruddin.
"Aku ingin tahu kenapa aku mesti digantung? Apa salahku?"
Para serdadu itu pun pergi menemui Timurleng dan menyampaikan apa yang tadi dikatakan Nasruddin. Mendengar itu Timurleng berkata,
"Bawa dia kemari!"
Nasruddin pun dibawa ke hadapan Timurleng, dan berkatalah ia kepada sang Maharaja,
"Apa gerangan salah saya, sehingga saya mesti digantung?"
"Kamu telah membawa nasib buruk bagiku" kata Timurleng.
"Siapa yang menyebabkan nasib buruk itu, saya atau Baginda?" tanya Nasruddin. Timurleng terdiam, tak dinyana ada seorang penduduk yang begitu beraninya berkata seperti itu kepadanya.
"Bagindalah yang membawa nasib buruk bagi saya, sebab saya ini akan digantung. Apabila saya yang membawa nasib buruk itu, tentunya Baginda tadi jatuh dari kuda, pecah kepalanya dan mati. Dan berdasarkan itu tentu ada alasan untuk kemudian menggantung saya,"
Mendengar itu Timurleng berpendapat bahwa alasan Nasruddin bisa diterima dan ia pun memutuskan untuk memaafkannya. Tetapi ia mengatakan bahwa ia ingin sekali menanyakan sesuatu kepada Nasruddin.
"Coba bilang aku ini seorang tiran atau seorang yang terpelajar?" bertanya ja kepada Nasruddin.
"Yang Mulia, jawab Nasruddin yang segera tanggap bahwa ia akan dijebak.
"Baginda bukan tiran dan bukan juga seorang yang terpelajar. Kami semua inilah tiran-tiran yang kejam, sehingga Tuhan telah mengutus Baginda untuk menghukum kami."
Sekali lagi Timurleng merasa sangat senang mendengar jawaban cerdas Nasruddin itu dan karenanya dia berkata,
"Baiklah, kalau begitu kamu bebas Nasruddin."
Beberapa waktu kemudian Timurleng mulai mengenakan pajak yang sangat tinggi atas kota-kota dan desa-desa di Turki. Karena mereka terdesak oleh keadaan ini semua tetangga Nasruddin datang ke rumahnya dan salah seorang di antara mereka berkata,
"Nasruddin kamu kan sudah berhasil bersahabat dengan Timurleng. Cobalah datang kepada maharaja itu dan mintalah agar beliau bisa mengurangi pajak yang dikenakan atas desa kita ini."
Nasruddin pergi ke tenda Timurleng dan maharaja itu berkata,
"Selamat datang, Nasruddin, senang sekali aku ketemu kau lagi."
Setelah mereka berbincang-bincang beberapa lamanya. Nasruddin berkata kepada Timurleng,
"Yang Mulia, rakyat desa saya sangat miskin. Maukah Yang Mulia mengurangi pajak yang dikenakan atas mereka?" Setelah berpikir sejenak Timurleng berkata kepada Nasruddin,
"Baiklah, ambil gajah yang diikat diluar tenda dan kemudian suruh penduduk desamu itu memberi makan gajahku dengan begitu mereka tidak usah rnembayar pajak."
Ketika Nasruddin kembali ke desanya membawa gajah itu, seluruh penduduk desa itu merasa sangat senang dengan cara pembayaran pajak yang baru itu. Tetapi dalam waktu kira-kira lima belas hari, gajah itu telah memakan semua tanaman milik petani dan para petani itu pun mulai merasa bahwa gajah tersebut ternyata merupakan beban yang lebih berat dibandingkan dengan pajak yang harus mereka bayar sebelumnya.
Mereka sekali lagi datang pada Nasruddin.
"Nasruddin tolong kau kembalikan gajah ini pada Baginda Timurleng, dan biarlah kami membayar pajak seperti yang dia putuskan dulu itu."
Nasruddin berpikir sejenak mempertimbangkan masalah yang berbahaya ini dan kemudian dia usul agar seluruh penduduk desa itu pergi bersamanya menemui Timurleng. Mereka semua menyetujui usul itu dan mereka pun mengikuti Nasruddin menuju ke tenda sang Maharaja.
Namun, ketika Nasruddin sudah dekat ketenda, ia melihat ke sekeliling dan ternyata semua penduduk desa yang mengikutinya itu sudah kabur karena takut kepada sang Maharaja. Jadi, akhimya dia harus sendirian saja menghadapi Timurleng.
"Ada masalah apa, Nasruddin?" kata Timurleng.
"Hamba datang kemari untuk menyatakan bahwa gajah yang telah Yang Mulia berikan kepada kami ini merasa kesepian. Kami berharap agar baginda bisa memberikan kami seekor gajah betina untuk menemaninya.. Namun Timurleng ternyata sudah diberi tahu tentang penduduk desa yang kabur meninggalkan Nasruddin. Maka berkatalah ia kepadanya,
"Aku telah mengetahui apa yang telah diperbuat orang-orang itu terhadapmu, Nasruddin. Seandainya mereka itu datang menemuiku, tentu permintaan mereka sudah aku kabulkan. Tetapi lantaran mereka menipumu aku akan menghukum mereka. Jadi, sekarang, Nasruddin, kamu boleh pergi."
Beberapa waktu kemudian ketika buah-buahan sudah ranum. Nasruddin berkata kepada istrinya,
"Ayo kita petik buah-buah yang sudah masak untuk kita bawa kepada Maharaja sebagai hadiah."
Mereka berdua pun pergi ke kebun dan mulai mengumpulkan buah ara. Tetapi istrinya segera mengatakan, "Nasruddin, lihat buah pir juga sudah masak. Baiknya kita petik juga beberapa buah pir yang sudah masak sebagai hadiah bagi sang Maharaja."
"Jangan," jawabnya.
"Kamu petik saja yang aku suruh petik. Jadi, petik saja buah ara yang sudah masak."
Beberapa saat kemudian istrinya berkata lagi,
"Lihat buah apel juga sudah masak. Barangkali sang Maharaja juga suka buah apel"
"Jangan, sudah kubilang jangan," kata Nasruddin. Kamu petik saja apa yang telah aku katakan tadi. Jadi, petik buah ara yang sudah masak."
Demikianlah, keduanya mengisi keranjang mereka dengan buah ara yang sudah masakdan Nasruddin pun membawanya ke tenda Timurleng lalu menaruhnya di depan tempat duduk sang maharaja.
"Duduklah Nasruddin, kata Timurleng sambil membuka keranjang. Maharaja pun memungut sebutir buah ara dan melemparkarmya ke wajah Nasruddin. Kemudian ia mengambil sebutir lagi dan melemparkannya ke wajah Nasruddin. Kemudian satu demi satu ia mengambil semua buah ara yang ada di dalam keranjang, dan melemparkannya kewajah Nasruddn. Setelah keranjang itu kosong sama sekali Nasruddin memandang ke atas dan berkata,
"Terima kasih, Tuhan."
"Kenapa kau katakan itu?" tanya Timurleng.
"Yang Mulia," jawab Nasruddin. Seandainya tadi hamba memetik juga buah-buahan yang telah diusulkan oleh istri hamba, tentu sekarang ini hamba tidak lagi memiliki kepala maupun mata. Hamba berterima kasih kepada Tuhan, karena hamba telah menuruti jalan pikiran hamba sendiri, dan dengan demikian hanya memetik buah ara matang yang lunak sebagai hadiah bagi Baginda."
Sabtu, 08 Februari 2014
Cerita Abu Nawas - Lebih Suka Masuk Penjara
Baginda Raja Harun Al Rasyid mempunyai dua orang putra dan permaisurinya. Pertama bernama Al Amin yang kedua bernama Al Ma'mun. Al Amin ternyata sangat bodoh dan pemalas. Sedang Al Ma'mun terkenal rajin dan pintar dalam bidang ilmu sastra. Raja sangat menyukai Al Ma'mun karena kecerdasannya tersebut. Ini tentu membuat sang permaisuri tidak suka, lantaran sang Raja dianggap pilih kasih. Padahal keduanya sama-sama putranya. "Suamiku kenapa Anda tidak begitu menyayangi Al Amin?" tanya sang permaisuri Zubaidah."Karena ia tidak bisa membuat syair dan tidak kenal dengan ilmu sastra," jawab sang Raja.
"Suamiku, sebenamya kalau mau Al Amin akan lebih menguasai ilmu sastra daripada saudaranya. Sebenamya ia lebih cerdas. ia hanya malas saja," kata sang permaisuri mencoba membela Al Amin.
"Apa buktinya?."
"Baik, tidak lama lagi Anda akan melihat buktinya." Pada suatu siang sang permaisuri memanggil putranya Al Amin.
Jumat, 07 Februari 2014
Cerita Abu Nawas Licik Di Balas Licik
Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar rnurid-muridnya. Ada dua orang tamu datang ke rumahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir. Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si pemuda Mesir.Setelah mendengar pengaduan rnereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab mereka. "Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian datang kepadaku pada malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta batu."
Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas. Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan berada di pihak yang benar. Pada malam harinya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan mernbawa peralatan yang diminta oleh Abu Nawas. Berkata Abu Nawas,
"Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak rumah Tuan Kadi yang baru jadi."
"Hah? Merusak rumah Tuan Kadi?" gumam semua muridnya keheranan.
"Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!" kata Abu Nawas menghapus keraguan rnurid-muridnya. Barang siapa yang mencegahmu, jangan kau perdulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru itu. Siapa yang bertanya, katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barang siapa yang hendak melempar kalian, maka pukullah mereka dan lemparilah dengan batu."
Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak ke arah rumah Tuan Kadi. Laksana demonstran mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi. Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakukan mereka. Lebih-lebih ketika tanpa basa-basi lagi mereka langsung merusak rumah Tua Kadi.
Orang-orang kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karena jumlah rnurid-murid Abu Nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani mencegah.
Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan bertanya,
"Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?" Murid-murid itu menjawab,
"Guru kami Tuan Abu Nawas yang rnenyuruh kami!" Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.
Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak orang yang berani membelanya," dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannya kepada Baginda."
Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu Nawas dipanggil mengahadap Baginda. Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya.
"Hai Abu Nawas apa sebabnya kau merusak rumah Kadi itu." Abu Nawas menjawab,
"Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada suatu malam hamba bermimpi, bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba rnerusak rumahnya. Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih bagus lagi. Ya, karena mimpi itu maka hamba merusak rumah Tuan Kadi."
Baginda berkata,
"Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?"
"Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi yang baru ini Tuanku." dengan tenang Abu Nawas menjawab,
Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. Ia terdiam seribu bahasa.
"Hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu?" tanya Baginda.
Tapi Tuan Kadi tiada menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran karena takut.
"Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti ini !" perintah Baginda. "Baiklah...." Abu Nawas tetap tenang .
"Baginda....beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang sambil membawa harta yang banyak sekali. Pada suatu malam ia bermimpi kawin dengan anak Tuan Kadi dengan rnahar (mas kawin) sekian banyak. Ini hanya mimpi Baginda.
Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsung mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda Mesir itu tak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di sinilah terlihat arogansi Tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milik pemuda Mesir sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan akhirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."
Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya seratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda Mesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di depan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke hadapan Baginda.
Berkata Baginda Raja,
"Hai anak Mesir ceritakanlah hal-ihwal dirimu sejak engkau datang ke negeri ini." Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan pemuda itu juga membawa saksi yaitu Pak Tua pemilik tempat kost dia menginap.
"Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejad moralnya."
Baginda sangat murka. Kadi yang baru itu dipecat dan seluruh harta bendanya dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir. Setelah perkara selesai, kernbalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas pulang ke rumahnya. Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas,"Janganlah engkau rnemberiku barang sesuatupun kepadaku. Aku tidak akan menerirnanya sedikitpun juga."
Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke negeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.
Kamis, 06 Februari 2014
Cerita Abu Nawas Membalas Perbuatan Raja
Abu Nawas hanya tertunduk sedih mendengarkan penuturan istrinya. Tadi pagi beberapa pekerja kerajaan atas titah langsung Baginda Raja membongkar rumah dan terus menggali tanpa bisa dicegah. Kata mereka tadi malam Baginda bermimpi bahwa di bawah rumah Abu Nawas terpendam emas dan permata yang tak ternilai harganya. Tetapi selelah mereka terus menggali ternyata emas dan permata itu tidak ditemukan. Dan Baginda juga tidak meminta maaf kepada Abu Nawas, apalagi mengganti kerugian. Inilah yang membuat Abu Nawas memendam dendam.Lama Abu Nawas memeras otak, namun belum juga ia menemukan muslihat untuk membalas Baginda. Makanan yang dihidangkan oleh istrinya tidak dimakan karena nafsu makannya lenyap. Malam pun tiba, namun Abu Nawas tetap tidak beranjak.
Keesokan hari Abu Nawas melihat lalat-lalat mulai menyerbu makanan Abu Nawas yang sudah basi. Ia tiba-tiba tertawa riang.
"Tolong ambilkan kain penutup untuk makananku dan sebatang besi." Abu Nawas berkata kepada istrinya. "Untuk apa?" tanya istrinya heran.
"Membalas Baginda Raja." kata Abu Nawas singkat.
Dengan muka berseri-seri Abu Nawas berangkat menuju istana. Setiba di istana Abu Nawas membungkuk hormat dan berkata,
"Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba tanpa ijin dari hamba dan berani rnemakan makanan hamba."
"Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu wahai Abu Nawas?" sergap Baginda kasar.
"Lalat-lalat ini, Tuanku." kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya.
"Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda junjungan hamba, hamba mengadukan perlakuan yang tidak adil ini."
"Lalu keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?"
"Hamba hanya menginginkan ijin tertulis dari Baginda sendiri agar hamba bisa dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu."
Baginda Raja tidak bisa mengelakkan diri menolak permintaan Abu Nawas karena pada saat itu para menteri sedang berkumpul di istana. Maka dengan terpaksa Baginda membuat surat ijin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu dimanapun mereka hinggap.
Tanpa menunggu perintah Abu Nawas mulai mengusir lalal-lalat di piringnya hingga mereka terbang dan hinggap di sana sini. Dengan tongkat besi yang sudah sejak tadi dibawanya dari rumah, Abu Nawas mulai mengejar dan memukuli lalat-lalat itu. Ada yang hinggap di kaca. Abu Nawas dengan leluasa memukul kaca itu hingga hancur, kemudian vas bunga yang indah, kemudian giliran patung hias sehingga sebagian dari istana dan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abu Nawas. Bahkan Abu Nawas tidak merasa malu memukul lalat yang kebetulan hinggap di tempayan Baginda Raja.
Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyadari kekeliruan yang telah dilakukan terhadap Abu Nawas dan keluarganya. Dan setelah merasa puas, Abu Nawas mohon diri. Barang-barang kesayangan Baginda banyak yang hancur. Bukan hanya itu saja, Baginda juga menanggung rasa malu. Kini ia sadar betapa kelirunya berbuat semena-mena kepada Abu Nawas. Abu Nawas yang nampak lucu dan sering menyenangkan orang itu ternyata bisa berubah menjadi garang dan ganas serta mampu membalas dendam terhadap orang yang mengusiknya.
Abu Nawas pulang dengan perasaan lega. Istrinya pasti sedang menunggu di rumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dari istana.
Rabu, 05 Februari 2014
Cerita Abu Nawas Mengecoh Raja
Sejak peristiwa penghancuran barang-barang di istana oleh Abu Nawas yang dilegalisir oleh Baginda, sejak saat itu pula Baginda ingin menangkap Abu Nawas untuk dijebloskan ke penjara. Sudah menjadi hukum bagi siapa saja yang tidak sanggup melaksanakan titah Baginda, maka tak disangsikan lagi ia akan mendapat hukuman. Baginda tahu Abu Nawas amat takut kepada beruang.Suatu hari Baginda memerintahkan prajuritnya menjemput Abu Nawas agar bergabung dengan rombongan Baginda Raja Harun Al Rasyid berburu beruang. Abu Nawas merasa takut dan gemetar tetapi ia tidak berani rnenolak perintah Baginda. Dalam perjalanan menuju ke hutan, tiba-tiba cuaca yang cerah berubah menjadi mendung. Baginda memanggil Abu Nawas. Dengan penuh rasa hormat Abu Nawas mendekati Baginda.
"Tahukah mengapa engkau aku panggil?" tanya Baginda tanpa sedikit pun senyum di wajahnya.
"Ampun Tuanku, hamba belum tahu. kata Abu Nawas.
"Kau pasti tahu bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Hutan masih jauh dari sini. Kau kuberi kuda yang lamban. Sedangkan aku dan pengawal-pengawalku akan menunggang kuda yang cepat, Nanti pada waktu santap siang kita berkumpul di tempat peristirahatanku. Bila hujan turun kita harus menghindarinya dengan cara kita masing-masing agar pakaian kita tetap kering. Sekarang kita berpencar." Baginda menjelaskan.
Kemudian Baginda, dan rombongan mulai bergerak. Abu Nawas kini tahu Baginda akan menjebaknya. Ia harus mencari akal. Dan ketika Abu Nawas sedang berpikir, tiba-tiba hujan turun. Begitu hujan turun Baginda dan rombongan segera memacu kuda untuk mencapai tempat perlindungan yang terdekat. Tetapi karena derasnya hujan, Baginda dan para pengawalnya basah kuyup.
Ketika santap siang tiba, Baginda segera menuju tempat peristirahatan. Belum sempat baju Baginda dan para pengawalnya kering, Abu Nawas datang dengan menunggang kuda yang lamban. Baginda dan para pengawal terperangah karena baju Abu Nawas tidak basah. Padahal dengan kuda yang paling cepat pun tidak bisa mencapai tempat berlindung yang paling dekat.
Pada hari kedua Abu Nawas diberi kuda yang cepat yang kemarin ditunggangi Baginda Raja. Kini Baginda dan para pengawal-pengawalnya mengendarai kuda-kuda yang lamban. Setelah Abu Nawas dan rombongan kerajaan berpencar, hujan pun turun seperti kemarin. Malah hujan hari ini lebih deras daripada kemarin. Baginda dan pengawalnya langsung basah kuyup karena kuda yang ditunggangi tidak bisa berlari dengan kencang.
Ketika saat bersantap siang tiba, Abu Nawas tiba di tempat peristirahatan lebih dahulu dari Baginda dan pengawalnya. Abu Nawas menunggu Baginda Raja. Selang beberapa saat Baginda dan para pengawalnya tiba dengan pakaian yang basah kuyup.
Melihat Abu Nawas dengan pakaian yang tetap kering Baginda jadi penasaran. Beliau tidak sanggup lagi menahan keingintahuan yang selama ini disembunyikan.
"Terus terang begaimana caranya rnenghindari hujan , wahai Abu Nawas. tanya Baginda.
"Mudah Tuanku yang mulia." kata Abu Nawas sambil tersenyum.
"Sedangkan aku dengan kuda yang cepat tidak sanggup mencapai tempat berteduh terdekat, apalagi dengan kuda yang lamban ini." kata Baginda.
"Hamba sebenarnya tidak melarikan diri dari hujan. Tetapi begitu hujan turun hamba secepat mungkin melepas pakaian hamba dan segera melipatnya, lalu mendudukinya. Ini hamba lakukan sampai hujan berhenti."
Diam-diam Baginda Raja mengakui kecerdikan Abu Nawas.
Selasa, 04 Februari 2014
Dongeng Anak Islami Pahala Membantu Tetangga Dan Anak Yatim
Pada suatu ketika Abdullah bin Mubarak pergi berhaji. Dan ia tertidur di Masjidil Haram. Saat tertidur dia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit. Dalam mimpinya itu ia mendengar percakapan kedua malaikat itu. Dongeng Anak Islam."Berapa banyak orang-orang yang berhaji pada tahun ini?", tanya malaikat yang satu kepada yang lain.
"Enam ratus ribu," jawab yang lain.
"Berapa banyak yang diterima ?", tanya satunya lagi
"Tidak seorang pun yang diterima, hanya ada seorang tukang sepatu dari Damsyik bernama Muwaffaq, dia tidak dapat berhaji karena suatu hal, tetapi diterima hajinya. Sehingga semua yang haji pada tahun itu diterima berkat hajinya Muwaffaq," jawab yang lain.
Ketika Abdullah bin Mubarak mendengar percakapannya itu, iapun terbangun dari tidurnya, Dengan segera Abdullah berkemas dan langsung berangkat ke Damsyik, untuk mencari orang yang bernama Muwaffaq.
Ketika sampai ke rumah Muwaffaq, diketuknya pintu rumahnya, dan keluarlah seorang lelaki dan segera ia bertanya namanya. Setelah dipersilakan masuk dan mereka saling mengenalkan diri.Abdullah bin Mubarak bertanya
"Kebaikan apakah yang telah engkau lakukan sehingga memperoleh derajat yang sedemikian tinggi ?" Tadinya aku ingin berhaji tetapi tidak terlaksana karena keadaanku, tetapi mendadak aku mendapat uang tiga ratus dirham dari pekerjaanku membuat dan menambal sepatu. Niatku akan kugunakan pergi haji pada tahun ini, tapi saat ini istriku tengah hamil.
Dan pada suatu hari istriku mencium bau masakan dari rumah tetangga dan istriku menginginkan sekali masakan itu, maka aku pergi ke rumah tetangga itu dan menyampaikan tujuanku sebenarnya.
"Oh, aku terpaksa membuka rahasiaku, sebenarnya anak-anak yatim yang berada di rumah ini sudah tiga hari tanpa makanan." jawab tetanggaku itu.
"Karena itu aku keluar untuk mencari makanan bagi mereka. Tiba-tiba saat dijalanan aku menemukan bangkai kuda di suatu tempat lalu aku potong dan sebagian aku bawa pulang untuk dimasak. Maka masakan ini halal bagi kami dan haram untuk kamu makan."
Ketika aku mendengar jawaban itu. aku segera pulang kembali ke rumah dan mengambil uang tiga ratus dirham dan aku serahkan kepada tetanggaku tadi, dan menyuruhnya membelanjakan uang itu untuk keperluan anak-anak yatim yang ada dalam asuhannya.
"Sebenarnya hajiku ada di depan pintu rumahku." Kata Muwaffaq lagi.
Demikianlah cerita yang sangat berkesan bahwa membantu tetangga yang dalam kelaparan amat besar pahalanya, apalagi di dalamnya terdapat anak-anak yatim.
"Ya Rasulullah tunjukkan padaku amal perbuatan yang bila kuamalkan akan masuk syurga," tanya seseorang.
"Jadilah kamu orang yang baik," jawab Rasulullah.
"Ya Rasulullah, bagaimanakah akan aku ketahui bahwa aku telah berbuat baik?" tanya orang itu lagi.
"Tanyakan pada tetanggamu, maka bila mereka berkata engkau baik maka engkau benar-benar baik dan bila mereka berkata engkau jahat, maka engkau sebenarnya jahat," jawab Rasulullah.
Senin, 03 Februari 2014
Cerita Anak Putri Salju Dari Eropa
Update kali ini dari cerita anak berbeda dari yang sebelumnya yang pernah saya tulis di blog ini, karena berasal dari luar negeri atau dari belahan benua Eropa. Tujuan kami agar anak-anak dapat lebih mengenal aneka ragam kekayaan budaya dari belahan bangsa lain di dunia ini.Dengan mengenal aneka ragam budaya bangsa lain diharapkan timbul rasa untuk menghargai kepada bangsa lain agar dikedepannya nanti akan tercipta suasana yang damai di seluruh dunia. Nah untuk kali ini ceritanya berjudul Cerita Anak Dari Eropa Putri Salju. Mungkin sudah sebagian besar mengetahui cerita tentang putrisalju. Namun tidak ada salahnya untuk sekedar mengingat cerita ini. Silakan anda membaca di bawah ini.
Snow White
Cerita Anak Putri Salju Dari Eropa
Dahulu kala di belahan dunia ini. Pada saat di musim salju, seorang ratu duduk menjahit di dekat jendela. Ketika ia melirik ke luar rumah untuk melihat serpihan salju yang tertiup angin, tiba-tiba jarinya tertusuk jarum dan tiga titik darah telah menodai baju jahitannya.
"Jika nanti aku punya anak," kata Ratu, "aku ingin seorang putri yang pipinya semerah darah, kulitnya seputih salju, dan rambutnya sehitam kayu eboni."
Ajaib, beberapa bulan sesudah itu, keinginan sang Ratu terkabul. Ia mengandung dan kemudian melahirkan seorang putri cantik dengan pipi yang merah, kulit putih, dan berambut hitam pekat.
Diberinya nama Putri Salju. Namun sungguh malang nasib Putri Salju, ibunya tidak dapat menemani lebih lama lagi di dunia ini. Sang Ratu meninggal dunia, dan ayahnya telah menikah lagi. Ratu baru ini cantik, namanya Ratu Elvira tetapi sifatnya penuh iri dan dengki. Hanya mementingkan diri sendiri. Ratu Elvira mempunyai benda ajaib yang paling disayanginya, yaitu sebuah cermin ajaib.
Setiap hari ia bertanya kepada cerminnya, "Cermin kaca benggala, Siapa wanita tercantik di dunia? Cermin itu menjawab, ”0h Ratu, engkaulah wanita paling cantik di dunia ini!" Tetapi, Putri Salju semakin besar dan setiap hari menjadi semakin cantik. Pada suatu hari, ketika Ratu bertanya, "Cermin, kaca benggala, Siapa wanita tercantik di dunia? Kali ini cermin memberi jawaban lain. "0h Ratu, Putri Saljulah wanita paling cantik di dunia!". Seketika itu juga wajah Ratu langsung cemberut, pucat dan marah.
Sejak peristiwa itu. Ratu sangat membenci Putri Salju, sedangkan semakin hari gadis itu semakin cantik. Dengan rasa marah Ratu rnemanggil seorang pemburu. "Bawalah Putri Salju ke hutan," perintahnya. "Bunuh dia dan bawa jantungnya kepadaku." Pemburu itu membawa Putri Salju ke hutan, tetapi ia tidak sampai hati membunuhnya. "Larilah, dan jangan kembali!" bisik si pemburu kepada putri salju.
Putri Salju tak tahu jalan dan ia sangat takut."Oh, kemana aku harus pergi?" tangisnya. Ia terus berjalan seorang diri. Akhirnya, putri salju melihat sebuah pondok di tempat terbuka. Di luar sangat dingin sekali, maka Putri Salju mengintip ke dalam. Ruangannya kecil dan terlihat sangat aneh! Ada tujuh kursi kecil dan tujuh piring yang kecil pula. Di sepanjang dinding ada tujuh ranjang kecil. Tidak ada orang. Putri Salju masuk, lalu berbaring di salah satu ranjang. Karena capai ia tertidur, Putri Salju tertidur pulas. Ia tidak tahu bahwa pondok itu milik tujuh kurcaci yang bekerja di tambang sepanjang hari, mereka pulang dan menyalakan tujuh lilin. "Astaga! Ada orang di sini!" seru salah satu kurcaci. Ia terkejut ketika melihat Putri Salju tidur di ranjang.
Karena seruan itu, Putri Salju terbangun dan ketujuh kurcaci datang mengerumuninya. "Cantik sekali gadis ini!" kata mereka. "Mengapa engkau datang ke tengah hutan begini, anak manis." tanya salah satu kurcaci dengan ramah. "Adakah sesuatu yang dapat kami lakukan untuk menolongmu?" Putri Saju bercerita tentang Ibunya, dan juga si Ratu yang jahat. Setelah bercerita, gadis itu menjadi sedih sehingga ia mulai menangis. "Cup,cup,cuuuP...!" kata si kurcaci yang baik itu. "Tinggalah bersama kami. Disini engkau aman dari wanita jahat itu." Putri Salju dengan senang hati menerima tawaran itu.
Di istana, lagi-lagi Ratu berdiri di depan cermin ajaibnya. Ia tidak tahu kalau pemburu itu sebenarnya tidak menjalankan perintahnya. Jantung yang diperlihatkannya adalah jantung binatang buruan, bukan jantung dari Putri Salju. Sambil mengusap tangan dengan penuh rasa puas, Ratu tersenyum dan berkata, "Cermin kaca benggala, Siapa wanita tercantik di dunia?'' tak terduga, cermin itu menjawab, "0h Ratu, Putri Saljulah wanita tercantik di dunia. Di tengah rimba, tempat kediaman tujuh kurcaci, di sanalah Putri Salju berada."
Sang Ratu menjerit marah, ia merencanakan tindakan dendamnya, Keesok harinya, ketujuh kurcaci berangkat kerja. Putri Salju merapikan pondok itu sambil bersenandung. Tak lama kemudian, seorang nenek-nenek mengetuk pintu. Dialah sang Ratu yang menyamar sebagai wanita penjual keliling. "Lihatlah barang-barang bagus ini, nak," katanya sambil tertawa. Putri Salju terpesona. Ia membiarkan wanita tua itu mengikatkan pita merah jambu di lehernya untuk mencobakan. Tiba-tiba wanita itu mengetatkan ikatannya! Putri Salju tercekik dan jatuh ketanah. Para kurcaci menemukan Putri Salju tergeletak hampir mati. Mereka melepaskan pitanya dan gadis itu bernapas lagi.
Keesokan paginya Putri Salju sudah sehat kembali. "Penjual itu adalah si Ratu jahat!" kata kurcaci. Sebelum berangkat kerja, mereka berpesan jangan membukakan pintu bagi orang-orang yang tak dikenal. Sementara itu, lagi-lagi cermin ajaib memberi tahu Ratu bahwa Putri Salju belum mati. Ratu pun marah dan ia menyamar lagi, kini sebagai nenek ramah penjual sisir. Lagi-lagi, Putri Salju hampir mati sebab sisir itu baracun. Kali ini para kurcaci menjadi geram. "Siapa pun tidak boleh masuk rumah," kata mereka tegas.
Ketika Ratu mengetahui dari cermin bahwa ia gagal lagi, kemarahannya memuncak. Ia bertekad untuk membunuh Putri Salju lagi. Keesok harinya. Ratu membawa sekeranjang apel beracun mengetuk pintu pondok kurcaci. "Pintunya tidak usah dibuka anak manis." katanya licik. "Tetapi cobalah buah apel yang matang ini, rasanya segar dan nikmat sekali!" Putri Salju tidak curiga pada buah apel merah yang ranum itu dan menggigitnya sepotong besar. Ketika para kurcaci pulang sore hari, mereka menemukan Putri Salju telah tergolek di lantai. Segala usaha untuk menyelamatkannya sia-sia saja. Ia tergeletak diam dan dingin. "Kita telah kehilangan gadis paling cantik di dunia," ratap mereka.
Sementara itu, jauh di istana. Ratu berdiri penuh keangkuhan di depan cerminnya. "Cermin, kaca benggala, Siapa wanita tercantik di dunia?". Cermin menjawab, "Ratu Elvira, wanita tercantik didunia."
Para kurcaci tidak dapat berpisah dengan Putri Salju. Pipinya yang berwarna merah darah, kulitnya seputih salju, dan rambutnya sehitam kayu eboni. Oleh karena itu, para kurcaci membuat sebuah peti mati dari kaca dan dengan hati-hati membaringkan Putri Salju didalamnya. Gadis yang terbaring itu tampak seolah-olah sedang tidur saja. Siang malam para kurcaci berjaga di samping peti. Pada suatu petang, lewatlah seorang pangeran muda. Begitu melihat Putri Salju, ia jatuh cinta. "Aku mohon pada kalian, ijinkanlah aku membawanya pulang. Supaya ia dapat berbaring dengan layak di istana." Para kurcaci akhirnya semua setuju. Dalam perjalanan menuruni gunung. Pada saat suatu ketika, salah seorang pelayan pengusung peti tersandung. Tiba-tiba dari mulut sang Putri Salju keluar secuil buah apel yang selama ini tersangkut di kerongkongannya.
Putri Salju membuka matanya dan memandang Pangeran, Sang Pangeran tentu saja gembira bukan kepalang. Dengan mata berbinar ia berkata, ''Aku cinta padamu, maukah kau menjadi istriku?" kata sang Pangeran. Putri Salju mengangguk bahagia. Para kurcaci merasa girang. Mereka melambai-lambaikan tangan ketika melihat gadis cantik itu berangkat lagi dengan Pangeran.
Putri Salju akhirnya menikah dengan Pangeran. Mereka hidup berbahagia hingga hari tua. Sementara itu Ratu Elvira yang jahat akhirnya mati oleh niat jahatnya sendiri, ketika hendak pergi membunuh Putri Salju, Ratu Elvira terjatuh kejurang yang dalam bersama kereta kudanya. Sekian
Nah diatas tadi sedikit gambaran cerita anak yang berjudul Putri Salju. Semoga saja anda suka dengan cerita anak diatas. Jangan lupa kelanjutan cerita dan dongeng lainnya
Minggu, 02 Februari 2014
Dongeng Anak Islami Pahala Dari Sebuah Sedekah
Dongeng Anak Islami Pahala Dari Sebuah Sedekah. Dahulu di kota Array terdapat seorang Kadi yang kaya-raya. Suatu hari kebetulan bulan Syura datanglah seorang miskin meminta sedekah.Berkatalah si miskin tadi,
"Wahai tuan Kadi, saya adalah seorang miskin yang mempunyai tanggungan keluarga. Demi kehormatan dan kemuliaan hari ini, saya minta pertolongan tuan. Berilah saya sedekah sekadarnya berupa sepuluh potong roti, lima potong daging dan uang dua dirham." kata si miskin itu.
Kadi menjawab,
"Datanglah setelah waktu dhuhur nanti." jawab Kadi. Selepas sembahyang dhuhur orang miskin itu pun datang demi memenuhi janjinya. Sayangnya si Kadi kaya itu tidak menepati janjinya dan menyuruh si miskin datang lagi setelah sembahyang Ashar.
Tapi pada ketika si miskin itu datang pada waktu yang dijanjikan untuk kali keduanya itu, ternyata si Kadi tidak memberikan apa-apa. Maka pergilah si miskin meninggalkan rumah si Kadi dengan hati kecewa.
Ketika si miskin jalan mencari-cari, ia lewat di depan seorang Nasrani yang sedang duduk di depan rumahnya.
"Tuan, demi keagungan dan kebesaran hari ini berilah saya sedekah untuk memberi makan keluarga saya," kata si rniskin itu minta sedekah kepada orang Nasrani itu.
"Hari apakah hari ini ?" Tanya orang Nasrani itu.
"Hari ini bulan Syura," jawab si miskin, sambil menerangkan keutamaan dan kisah-kisah bulan Syura.
Rupanya orang Nasrani itu sangat tertarik mendengar cerita si peminta sedekah dan hatinya berkenan untuk memberi sedekah.
"Katakan padaku, apa keinginanmu" katanya si Nasrani. Berkata si peminta sedekah,
"Saya memerlukan sepuluh potong roti, lima iris daging dan uang dua dirham saja."
Dengan segera orang Nasrani memberi si peminta semua keperluan yang dikatakannnya. Si miskin itu pun pulang dengan hati gembira.
Sementara itu, ketika tidur si Kadi yang ingkar janji itu telah bermimpi.
"Angkat kapalamu" kata suara dalam mimpinya. Baru saja ia mengangkat kepalanya, Tiba-tiba terhampar di depan matanya dua buah bangunan yang indah. Sebuah istana dibuat dari batu-bata berlapis emas dan sebuah lagi dibuat dari permata yang berkilauan.
"Ya Tuhan, untuk siapa istana yang sangat indah ini ?" Terdengar jawaban.
"Semua bangunan istana ini adalah untuk kamu andaikan saja kamu mau memenuhi hajat si peminta sedekah itu. Kini istana itu dimiliki oleh seorang Nasrani."
Saat bangun dari tidurnya. Kadi itu segera pergi menemui orang Nasrani yang dimaksudkan dalam mimpinya. Kadi bertanya kepada si Kristian,
"Perbuatan apakah gerangan yang kau lakukan semalam, hingga kau dapat pahala dua buah istana yang sangat indah ?" tanya si Kadi. Orang Nasrani itu pada mulanya bengong, tak mengerti.
Tapi setelah diterangkan oleh si Kadi berkaitan dengan mimpinya, maka ia bercerita bahwa kemarin yang dilakukannya, bahwa ia telah bersedekah kepada fakir miskin yang memerlukannya pada hari Syura ini.
"Juallah amal itu kepadaku dengan harga seratus ribu dirharn," kata si Kadi.
"Ketahuilah, hai Kadi, sesungguhnya amal baik yang diberikan dan dibalas oleh Allah tidak dapat diperjual-belikan. Sekalipun dengan harga bumi serta seisinya." Kata si Kristian.
"Mengapa anda begitu, sedangkan anda bukan seorang Islam?" Tanya si Kadi.
Ketika itu juga orang Nasrani itu membuang tanda salibnya dan mengucapkan dua kalimah syahadat serta mengakui kebenaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W.
Sabtu, 01 Februari 2014
Cerita Lucu Abu Nawas
Abu Nawas dilahirkan di kota Ahvaz di negeri Persia, dengan darah Arab dan Persia mengalir di tubuhnya. Setelah beliau meninggal pun masih banyak orang-orang yang dibikin tertawa dengan cerita cerita menarik darinya.Didepan makamnya ada pintu gerbang yang terkunci dengan kunci gembok yang sangat besar sekali. Tetapi dikanan dan kiri pintu gerbang itu tidak diberikan pembatas alias pagarnya bolong sehingga orang bisa dengan leluasanya untuk masuk ke makam untuk berziarah. Sebuah misteri, Mungkin itu adalah simbol dari watak dari tokoh Abu Nawas yang sepertinya tertutup namun sebenarnya dia adalah seorang yang sangat terbuka. Ada sesuatu yang misteri dari diri Abu Nawas, sepertinya dia bukan orang yang biasa-biasa saja. Dengan kesederhanaan dan dikenal sangat dekat dengan rakyat jelata dan suka sekali membantu kaum yang lemah dan juga tertindas.
Dengan begitu banyaknya ragam cerita-cerita darinya menjadikan Kisah Abu Nawas dikenal sampai belahan dunia. Membaca cerita dan kisah Abu Nawas kadang-kadang ceritanya tidak masuk diakal, untuk itu Anda harus kritis dan bijaksana dalam menyikapinya.
Cerita Lucu Abu Nawas - ROBOHKAN SAJA
Pada suatu hari Darwis yang pergi ke sebuah pemandian. Ia berada dalam pemandian itu beberapa jam lamanya dan diperlakukan baik-baik. Tetapi ketika selesai, ia menyadari bahwa tidak mempunyai uang untuk membayar ongkos mandi itu. Pada masa itu untuk sekali mandi bayarannya adalah satu keping.
Tepat sebelum Darwis itu sampai di tempat kasir yang duduk di dekat pintu, ia memohon kepada Tuhan, "Ya, Tuhan, robohkan saja rumah mandi ini sehingga hambamu ini tidak menjadi malu lantaran tidak bisa membayar." Pada saat itu juga rumah mandi itu roboh. Dan pada saat yang sangat tepat Darwis itu pun keluar dari rumah mandi yang roboh tadi, sehingga dia selamat.
Di luar rumah permandian itu ia bertemu seorang pengemis yang meminta uang satu keping darinya. Darwis itu pun berkata kepadanya, "Kamu rninta uang sekeping dariku? Tuhan saja tidak punya uang satu kepeng! Seandainya Dia punya, tentunya tadi rumah permandian itu tidak dirobohkan-Nya."
Cerita Lucu Abu Nawas - Konsisten
"Berapa umurmu, Nasrudin?"
"Empat puluh."
"Lho? dulu kau menyebutkan angka yang sama ketika aku menanyakan umurmu dua tahun yang lalu?"
"Ya, aku memang berusaha untuk konsisten dengan apa yang pernah aku katakan."
"Oh. begitukah cara menepati omongan?"
"Masak kau nggak tahu seh?"
Minggu, 05 Januari 2014
Tata Cara dan Niat Sholat Dhuha serta Keutamaannya
SHOLAT DHUHA
Pengertian Shalat Dhuha
Shalat
Dhuha adalah shalat sunah yang dilakukan setelah terbit matahari
sampai menjelang masuk waktu zhuhur. Afdhalnya dilakukan pada pagi hari
disaat matahari sedang naik ( kira-kira jam 9.00 ). Shalat Dhuha lebih
dikenal dengan shalat sunah untuk memohon rizki dari Allah,
berdasarkan hadits Nabi : ” Allah berfirman : “Wahai anak Adam,
jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu
permulaan siang ( Shalat Dhuha ) niscaya pasti akan Aku cukupkan
kebutuhanmu pada akhir harinya “ (HR.Hakim dan Thabrani).Hadits Rasulullah SAW terkait Shalat Dhuha
- Barang siapa shalat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana disurga” (H.R. Tirmiji dan Abu Majah)
- “Siapapun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (H.R Tirmidzi)
- “Dari Ummu Hani bahwa Rasulullah SAW shalat dhuha 8 rakaat dan bersalam tiap dua rakaat.” (HR Abu Daud)
- “Dari Zaid bin Arqam ra. Berkata,”Nabi SAW keluar ke penduduk Quba dan mereka sedang shalat dhuha‘. Beliau bersabda,?Shalat awwabin (duha‘) berakhir hingga panas menyengat (tengah hari).” (HR Ahmad Muslim dan Tirmidzi)
- “Rasulullah bersabda di dalam Hadits Qudsi, Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat shalat dhuha, karena dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR Hakim & Thabrani)
- “Barangsiapa yang masih berdiam diri di masjid atau tempat shalatnya setelah shalat shubuh karena melakukan i’tikaf, berzikir, dan melakukan dua rakaat shalat dhuha disertai tidak berkata sesuatu kecuali kebaikan, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun banyaknya melebihi buih di lautan.” (HR Abu Daud)
Manfaat dan Makna Shalat Dhuha
Ada yang mengatakan bahwa shalat dhuha juga disebut shalat awwabin. Akan tetapi ada juga yang mengatakan bahwa keduanya berbeda karena shalat awwabin waktunya adalah antara maghrib dan isya.
Waktu shalat dhuha dimulai dari matahari yang mulai terangkat naik kira-kira sepenggelah dan berakhir hingga sedikit menjelang masuknya waktu zhuhur meskipun disunnahkan agar dilakukan ketika matahari agak tinggi dan panas agak terik. Adapun diantara keutamaan atau manfaat shalat dhuha ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud dan Ahmad dari Abu Dzar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab setiap kali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh orang lain agar melakukan amal kebaikan adalah sedekah, melarang orang lain agar tidak melakukan keburukan adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu maka cukuplah mengerjakan dua rakaat shalat dhuha.”
Juga apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang. Ia harus dikeluarkan sedekahnya untuk tiap ruas tulang tersebut.” Para sahabat bertanya,”Siapakah yang mampu melaksanakan seperti itu, wahai Rasulullah saw?” Beliau saw menjawab,”Dahak yang ada di masjid, lalu pendam ke tanah dan membuang sesuatu gangguan dari tengah jalan, maka itu berarti sebuah sedekah. Akan tetapi jika tidak mampu melakukan itu semua, cukuplah engkau mengerjakan dua rakaat shalat dhuha.”
Didalam riwayat lain oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairoh berkata,”Nabi saw kekasihku telah memberikan tiga wasiat kepadaku, yaitu berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mengerjakan dua rakaat dhuha dan mengerjakan shalat witir terlebih dahulu sebelum tidur.”
Jumhur ulama mengatakan bahwa shalat dhuha adalah sunnah bahkan para ulama Maliki dan Syafi’i menyatakan bahwa ia adalah sunnah muakkadah berdasarkan hadits-hadits diatas. Dan dibolehkan bagi seseorang untuk tidak mengerjakannya.
Cara melaksanakan Shalat Dhuha :
Shalat Dhuha minimal dua rakaat dan maksimal duabelas rakaat, dilakukan secara Munfarid (tidak berjamaah), caranya sebagai berikut :
- Niat shalat dhuha didalam hati berbarengan dengan Takbiratul ihram :
Artinya :
“Aku niat shalat sunat dhuha dua rakaat, karena Allah ta’ala
- Membaca doa Iftitah
- Membaca surat al Fatihah
- Membaca satu surat didalam Alquran. Afdholnya rakaat pertama membaca surat Asy-Syam dan rakaat kedua surat Al Lail
- Ruku’ dan membaca tasbih tiga kali
- I’tidal dan membaca bacaannya
- Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali
- Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaanya
- Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali
- Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali. Rakaat-rakaat selanjutnya dilakukan sama seperti contoh diatas.
Bacaan Doa Sholat Dhuha Lengkap Bahasa Arab – Bahasa Indonesia dan Artinya
اَللهُمَّ
اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ
جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ،
وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقَى فِى السَّمَآءِ
فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ
مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ
بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ
وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
ALLAHUMMA INNADH DHUHA-A DHUHA-UKA, WAL BAHAA-A BAHAA-UKA, WAL
JAMAALA JAMAALUKA, WAL QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA QUDRATUKA, WAL
ISHMATA ISHMATUKA. ALLAHUMA INKAANA RIZQI FIS SAMMA-I FA ANZILHU, WA
INKAANA FIL ARDHI FA-AKHRIJHU, WA INKAANA MU’ASARAN FAYASSIRHU,
WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA INKAANA BA’IDAN FA QARIBHU,
BIHAQQIDUHAA-IKA WA BAHAAIKA, WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA,
AATINI MAA ATAITA ‘IBADIKASH SHALIHIN.Artinya: “Ya Alloh, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Ya Alloh, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”.

Sabtu, 04 Januari 2014
Bacaan Sholat Fardhu 5 Waktu Lengkap Dengan Gerakannya
1. Gerakan Berdiri Tegak untuk Salat,
Berdiri tegak pada salat fardu hukumnya wajib. Berdiri tegak merupakan
salah satu rukun salat. Sikap ini dilakukan sejak sebelum takbiratul
ihram. Cara melakukannya adalah sebagai berikut.
1. Posisi badan harus tegak lurus dan tidak membungkuk, kecuali jika sakit.
2. Tangan rapat di samping badan.
3. Kaki direnggangkan, paling lebar selebar bahu.
4. Semua ujung jari kaki menghadap kiblat.
5. Pandangan lurus ke tempat sujud.
6. Posisi badan menghadap kiblat. Akan tetapi, jika tidak mengetahui arah kiblat, boleh menghadap ke arah mana saja. Asal dalam hati tetap berniat menghadap kiblat.
2. Gerakan Mengangkat Kedua Tangan
ada banyak keterangan tentang cara mengangkat tangan. Menurut kebanyakan ulama caranya adalah sebagai berikut.
1. Telapak tangan sejajar dengan bahu.
2. Ujung jari-jari sejajar dengan puncak telinga.
3. Ujung ibu jari sejajar dengan ujung bawah telinga.
4. Jari-jari direnggangkan.
5. Telapak tangan menghadap ke arah kiblat, bukan menghadap ke atas atau ke samping.
Sedekap dilakukan sesudah mengangkat tangan takbiratulihram. Adapun caranya adalah sebagai berikut.
a. Telapak tangan kanan diletakkan di atas pergelangan tangan kiri, tidak digenggamkan.
Rukuk artinya membungkukkan badan. Adapun cara melakukannya adalah sebagai berikut.
1. Angkat tangan sambil mengucapkan takbir. Caranya sama seperti takbiratulihram.
2. Turunkan badan ke posisi membungkuk.
3. Kedua tangan menggenggam lutut. Bukan menggenggam betis atau paha. Jari-jari tangan direnggangkan. Posisi tangan lurus, siku tidak ditekuk.
4. Punggung dan kepala sejajar. Punggung dan kepala dalam posisi mendatar. Tidak terlalu condong ke bawah. Tidak pula mendongah ke atas.
5. Kaki tegak lurus, lutut tidak ditekuk.
6. Pinggang direnggangkan dari paha.
7. Pandangan lurus ke tempat sujud.
Sesudah posisi ini mantap, kemudian membaca salah satu doa rukuk.
Iktidal adalah bangkit dari rukuk.
Posisi badan kembali tegak. Ketika bangkit disunahkan mengangkat tangan
seperti ketika takbiratulihram. Bersamaan dengan itu membaca kalimat
“sami’allahu liman hamidah”. Badan kembali tegak berdiri. Tangan rapat
di samping badan. Ada juga yang kembali ke posisi bersedekap seperti
halnya ketika membaca surat Al Fatihah. Perbedaan ini terjadi karena
beda pemaknaan terhadap hadis dalilnya. Padahal dalil yang digunakan
sama. Namun, jumhur ulama sepakat bahwa saat iktidal itu menyimpan
tangan rapat di samping badan.
ujud artinya menempelkan kening pada lantai. Menurut hadis riwayat
Jamaah, ada tujuh anggota badan yang menyentuh lantai ketika sujud,
yaitu:
1. wajah (kening dan hidung),
2. dua telapak tangan,
3. dua lutut, dan
4. dua ujung telapak kaki.
Cara melakukan sujud adalah sebagai berikut.
1. Turunkan badan dari posisi iktidal, dimulai dengan menekuk lutut sambil mengucapkan takbir.
2. Letakkan kedua lutut ke lantai.
3. Letakkan kedua telapak tangan ke lantai.
4. Letakkan kening dan hidung ke lantai.
5. Talapak tangan dibuka, tidak dikepalkan. Akan tetapi, jari-jarinya dirapatkan, dan ini satu-satunya gerakan di mana jari-jari tangan dirapatkan, sementara dalam gerakan lainnya jari-jari ini selalu direnggangkan.
6. Jari-jari tangan dan kaki semuanya menghadap ke arah kiblat. Ujung jari tangan letaknya sejajar dengan bahu.
7. Lengan direnggangkan dari ketiak (sunah bagi laki-laki). Untuk perempuan ada yang menyunahkan merapatkannya pada ketiak. Namun, boleh juga merenggangkannya.
8. Renggangkan pinggang dari paha.
9. Posisi pantat lebih tinggi daripada wajah.
10. Sujud hendaknya dilakukan dengan tenang. Ketika sudah mantap sujudnya, bacalah salah satu doa sujud.
Ketika bangkit dari sujud untuk berdiri ke rakaat berikutnya, disunahkan wajah lebih dulu dianggkat dari lantai, kemudian tangan, dan disusul dengan mengangkat lutut hingga berdiri tegak.
Duduk antara sujud adalah duduk iftirasy, yaitu:
1. Bangkit dari sujud pertama sambil mengucapkan takbir.
2. Telapak kaki kiri dibuka dan diduduki.
3. Telapak kaki kanan tegak. Jari-jarinya menghadap ke arah kiblat.
4. Badan tegak lurus.
5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
6. Telapak tangan dibuka. Jari-jarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut.
8. Pandangan lurus ke tempat sujud.
9. Setelah posisi tumakninah, baru kemudian membaca salah satu doa antara dua sujud.
Duduk
tasyahud awal adalah duduk iftirasy, sama seperti duduk antara dua
sujud. Ini pada salat yang lebih dari dua rakaat, yaitu pada salat
zuhur, asar, magrib, dan isya. Caranya adalah sebagai berikut.
1. Bangkit dari sujud kedua rakaat kedua sambil membaca takbir.
2. Telapak kaki kiri dibuka dan diduduki.
3. Telapak kaki kanan tegak. Jari-jarinya menghadap ke arah kiblat.
4. Badan tegak lurus.
5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
6. Telapak tangan dibuka. Jari-jarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut.
8. Disunahkan memberi isyarat dengan telunjuk, yaitu telapak tangan kanan digenggamkan. Kemudian telunjuk diangkat (menunjuk). Dalam posisi ini kemudian membaca doa tasyahud.
salam ke arah kanan dan kiri seraya mengucapkan: “ASSALAAMU ‘ALAIKUM
WA RAHMATULLAH, ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA RAHMATULLAH (Semoga keselamatan
dan rahmat Allah limpahkan kepadamu)
Buat para sahabat semua itulah tata cara sholat fardhu 5 waktu yang lengkap dengan gerakannya juga sudah ada bacaannya, semoga para sahabat semuanya dapat di beri hidayah dan rahmatNYA. Dan jika dalam postingan Riantocha kali ini ada salah ataupun kurang dalam penulisannya mohon sekiranya para sobat dan sahabat ikut membantu.
Terimakasih.
Berdiri tegak pada salat fardu hukumnya wajib. Berdiri tegak merupakan
salah satu rukun salat. Sikap ini dilakukan sejak sebelum takbiratul
ihram. Cara melakukannya adalah sebagai berikut.1. Posisi badan harus tegak lurus dan tidak membungkuk, kecuali jika sakit.
2. Tangan rapat di samping badan.
3. Kaki direnggangkan, paling lebar selebar bahu.
4. Semua ujung jari kaki menghadap kiblat.
5. Pandangan lurus ke tempat sujud.
6. Posisi badan menghadap kiblat. Akan tetapi, jika tidak mengetahui arah kiblat, boleh menghadap ke arah mana saja. Asal dalam hati tetap berniat menghadap kiblat.
2. Gerakan Mengangkat Kedua Tangan
ada banyak keterangan tentang cara mengangkat tangan. Menurut kebanyakan ulama caranya adalah sebagai berikut.1. Telapak tangan sejajar dengan bahu.
2. Ujung jari-jari sejajar dengan puncak telinga.
3. Ujung ibu jari sejajar dengan ujung bawah telinga.
4. Jari-jari direnggangkan.
5. Telapak tangan menghadap ke arah kiblat, bukan menghadap ke atas atau ke samping.
6. Lengan direnggangkan dari ketiak
(sunah bagi laki-laki). Untuk perempuan ada yang menyunahkan
merapatkannya pada ketiak. Namun, boleh juga merenggangkannya.
7. Bersamaan dengan mengucapkan kalimat takbir.
7. Bersamaan dengan mengucapkan kalimat takbir.
Catatan: Mengangkat
tangan ketika salat terdapat pada empat tempat, yaitu saat
takbiratulihram, saat hendak rukuk, saat iktidal (bangun dari rukuk),
dan saat bangun dari rakaat kedua (selesai tasyahud awal) untuk berdiri
meneruskan rakaat ketiga.
3. Gerakan Sedekap dalam Salat
Sedekap dilakukan sesudah mengangkat tangan takbiratulihram. Adapun caranya adalah sebagai berikut.a. Telapak tangan kanan diletakkan di atas pergelangan tangan kiri, tidak digenggamkan.
b. Meletakkan tangan boleh di dada. Boleh juga meletakkannya di atas pusar. Boleh juga meletakkannya di bawah pusar.
Ketika bersedekap, doa yang pertama
dibaca adalah doa iftitah. Setelah selesai iftitah, kemudian membaca
surat Al Fatihah. Sesudah membaca surat Al Fatihah, kemudian membaca
surat pendek seperti Al Ikhlas, Al ‘Asr, dan An Nasr.
Adapun Bacaan ada di bawah ini :
DOA IFTITAH
ALLAAHU AKBARU KABIIRAA WAL HAMDU LILLAAHI KATSIIRAA WASUBHAANALLAAHI BUKRATAW WAASHIILAA.
Allah
Maha Besar, Maha Sempurna Kebesaran-Nya. Segala Puji Bagi Allah, Pujian
Yang Sebanyak-Banyaknya. Dan Maha Suci Allah Sepanjang Pagi Dan Petang.
INNII WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAM MUSLIMAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIIN.
Kuhadapkan
Wajahku Kepada Zat Yang Telah Menciptakan Langit Dan Bumi Dengan Penuh
Ketulusan Dan Kepasrahan Dan Aku Bukanlah Termasuk Orang-Orang Yang
Musyrik.
INNA SHALAATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHIRABBIL ‘AALAMIIN.
Sesungguhnya Sahalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta.
LAA SYARIIKA LAHUU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIIN.
Tidak Ada Sekutu Bagi-Nya Dan Dengan Demikianlah Aku Diperintahkan Dan Aku Termasuk Orang-Orang Islam.
AL-FATIHAH
BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM.
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
AL HAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN.
Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
ARRAHMAANIR RAHIIM.
Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
MAALIKIYAUMIDDIIN.
Penguasa Hari Pembalasan.
IYYAAKA NA’BUDU WAIYYAAKA NASTA’IINU.
Hanya Kepada-Mu lah Aku Menyembah Dan Hanya Kepada-Mu lah Aku Memohon Pertolongan.
IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM.
Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus.
SHIRAATHAL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WALADHDHAALLIIN. AAMIIN.
Yaitu
Jalannya Orang-Orang Yang Telah Kau Berikan Nikmat, Bukan Jalannya
Orang-Orang Yang Kau Murkai Dan Bukan Pula Jalannya Orang-Orang Yang
Sesat.
4. Gerakan Rukuk Dalam Sholat
Rukuk artinya membungkukkan badan. Adapun cara melakukannya adalah sebagai berikut.1. Angkat tangan sambil mengucapkan takbir. Caranya sama seperti takbiratulihram.
2. Turunkan badan ke posisi membungkuk.
3. Kedua tangan menggenggam lutut. Bukan menggenggam betis atau paha. Jari-jari tangan direnggangkan. Posisi tangan lurus, siku tidak ditekuk.
4. Punggung dan kepala sejajar. Punggung dan kepala dalam posisi mendatar. Tidak terlalu condong ke bawah. Tidak pula mendongah ke atas.
5. Kaki tegak lurus, lutut tidak ditekuk.
6. Pinggang direnggangkan dari paha.
7. Pandangan lurus ke tempat sujud.
Sesudah posisi ini mantap, kemudian membaca salah satu doa rukuk.
Adapun bacaan Rukuk Sebagai Berikut :
R U K U’
SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH. – 3 x
Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.
5. Gerakan Iktidal dalam Sholat
Iktidal adalah bangkit dari rukuk.
Posisi badan kembali tegak. Ketika bangkit disunahkan mengangkat tangan
seperti ketika takbiratulihram. Bersamaan dengan itu membaca kalimat
“sami’allahu liman hamidah”. Badan kembali tegak berdiri. Tangan rapat
di samping badan. Ada juga yang kembali ke posisi bersedekap seperti
halnya ketika membaca surat Al Fatihah. Perbedaan ini terjadi karena
beda pemaknaan terhadap hadis dalilnya. Padahal dalil yang digunakan
sama. Namun, jumhur ulama sepakat bahwa saat iktidal itu menyimpan
tangan rapat di samping badan.
Sesudah badan mantap tegak berdiri, barulah membaca salah satu doa iktidal.
I’TIDAL
SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.
Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya ).
RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU.
Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.
6. Gerakan Sujud dalam Sholat
ujud artinya menempelkan kening pada lantai. Menurut hadis riwayat
Jamaah, ada tujuh anggota badan yang menyentuh lantai ketika sujud,
yaitu:1. wajah (kening dan hidung),
2. dua telapak tangan,
3. dua lutut, dan
4. dua ujung telapak kaki.
Cara melakukan sujud adalah sebagai berikut.
1. Turunkan badan dari posisi iktidal, dimulai dengan menekuk lutut sambil mengucapkan takbir.
2. Letakkan kedua lutut ke lantai.
3. Letakkan kedua telapak tangan ke lantai.
4. Letakkan kening dan hidung ke lantai.
5. Talapak tangan dibuka, tidak dikepalkan. Akan tetapi, jari-jarinya dirapatkan, dan ini satu-satunya gerakan di mana jari-jari tangan dirapatkan, sementara dalam gerakan lainnya jari-jari ini selalu direnggangkan.
6. Jari-jari tangan dan kaki semuanya menghadap ke arah kiblat. Ujung jari tangan letaknya sejajar dengan bahu.
7. Lengan direnggangkan dari ketiak (sunah bagi laki-laki). Untuk perempuan ada yang menyunahkan merapatkannya pada ketiak. Namun, boleh juga merenggangkannya.
8. Renggangkan pinggang dari paha.
9. Posisi pantat lebih tinggi daripada wajah.
10. Sujud hendaknya dilakukan dengan tenang. Ketika sudah mantap sujudnya, bacalah salah satu doa sujud.
Ketika bangkit dari sujud untuk berdiri ke rakaat berikutnya, disunahkan wajah lebih dulu dianggkat dari lantai, kemudian tangan, dan disusul dengan mengangkat lutut hingga berdiri tegak.
Bacaa pada waktu sujud :
SUJUD
SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH. – 3 x
Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya.
7. Gerakan Duduk antara Dua Sujud
Duduk antara sujud adalah duduk iftirasy, yaitu:1. Bangkit dari sujud pertama sambil mengucapkan takbir.
2. Telapak kaki kiri dibuka dan diduduki.
3. Telapak kaki kanan tegak. Jari-jarinya menghadap ke arah kiblat.
4. Badan tegak lurus.
5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
6. Telapak tangan dibuka. Jari-jarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut.
8. Pandangan lurus ke tempat sujud.
9. Setelah posisi tumakninah, baru kemudian membaca salah satu doa antara dua sujud.
Bacaannya Sebagai Berikut :
DUDUK DIANTARA DUA SUJUD
RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.
Ya
Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan
)-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk,
Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.
8. Gerakan Tasyahud (Tahiyat) Awal
Duduk
tasyahud awal adalah duduk iftirasy, sama seperti duduk antara dua
sujud. Ini pada salat yang lebih dari dua rakaat, yaitu pada salat
zuhur, asar, magrib, dan isya. Caranya adalah sebagai berikut.1. Bangkit dari sujud kedua rakaat kedua sambil membaca takbir.
2. Telapak kaki kiri dibuka dan diduduki.
3. Telapak kaki kanan tegak. Jari-jarinya menghadap ke arah kiblat.
4. Badan tegak lurus.
5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
6. Telapak tangan dibuka. Jari-jarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut.
8. Disunahkan memberi isyarat dengan telunjuk, yaitu telapak tangan kanan digenggamkan. Kemudian telunjuk diangkat (menunjuk). Dalam posisi ini kemudian membaca doa tasyahud.
Bacaannya sebagai berikut :
TASYAHUD AWAL
ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.
ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.
ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.
ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.
ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.
Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !.
9. Gerakan Tasyahud Akhir
Tasyahud akhir adalah duduk tawaruk. Caranya adalah.
1. Bangkit dari sujud kedua, yaitu pada rakaat terakhir salat, sambil membaca takbir.
2. Telapak kaki kiri dimasukkan ke bawah kaki kanan. Jadi, panggul duduk menyentuh lantai.
3. Telapak kaki kanan tegak. Jari-jarinya menghadap ke arah kiblat.
4. Badan tegak lurus.
5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
6. Telapak tangan dibuka. Jari-jarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut.
8. Disunahkan memberi isyarat dengan telunjuk, yaitu telapak tangan kanan digenggamkan. Kemudian telunjuk diangkat (menunjuk). Dalam posisi ini kemudian membaca doa tasyahud, selawat, dan doa setelah tasyahud akhir.
1. Bangkit dari sujud kedua, yaitu pada rakaat terakhir salat, sambil membaca takbir.
2. Telapak kaki kiri dimasukkan ke bawah kaki kanan. Jadi, panggul duduk menyentuh lantai.
3. Telapak kaki kanan tegak. Jari-jarinya menghadap ke arah kiblat.
4. Badan tegak lurus.
5. Siku ditekuk. Tangan sejajar dengan paha.
6. Telapak tangan dibuka. Jari-jarinya direnggangkan dan menghadap ke arah kiblat.
7. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Ujung jari tangan sejajar dengan lutut.
8. Disunahkan memberi isyarat dengan telunjuk, yaitu telapak tangan kanan digenggamkan. Kemudian telunjuk diangkat (menunjuk). Dalam posisi ini kemudian membaca doa tasyahud, selawat, dan doa setelah tasyahud akhir.
Bacaannya sebagai berikut :
TASYAHUD AKHIR
ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.
ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.
ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.
ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.
Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.
ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal ) WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.
KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.
WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.
Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.
KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.
Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.
FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID. YAA MUQALLIBAL QULUUB. TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIK.
Sungguh
Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia. Wahai Zat
Yang Menggerakkan Hati. Tetapkanlah Hatiku Pada Agama-Mu.
10. Gerakan salam
Gerakan salam adalah menengok ke arah kanan dan kiri. Menengok dilakukan
sampai kira-kira searah dengan bahu. Jika jadi imam dalam salat
berjamaah, salam dilakukan sampai terlihat hidung oleh makmum. Menengok
dilakukan sambil membaca salam.
Adapun bacaan salam sebagai berikut :
Buat para sahabat semua itulah tata cara sholat fardhu 5 waktu yang lengkap dengan gerakannya juga sudah ada bacaannya, semoga para sahabat semuanya dapat di beri hidayah dan rahmatNYA. Dan jika dalam postingan Riantocha kali ini ada salah ataupun kurang dalam penulisannya mohon sekiranya para sobat dan sahabat ikut membantu.
Terimakasih.
Langganan:
Komentar (Atom)

